Laba Industri Modal Ventura Rp 327,62 Miliar, BOPO Tinggi Jadi Tantangan
Poin Penting
|
JAKARTA, invesstortrust.id - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai rasio beban operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) menjadi salah satu indikator yang perlu diperhatikan industri modal ventura karena dapat memengaruhi tingkat profitabilitas perusahaan.
Menurut Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya (PVML) OJK Agusman, karakteristik usaha modal ventura, khususnya venture capital corporation (VCC), menyebabkan pendapatan tidak bersifat rutin.
“Sehingga rasio BOPO perlu dilihat dengan mempertimbangkan karakteristik model bisnis dan kualitas portofolio,” ujarnya, dalam jawaban tertulis, dikutip Senin (10/8/2026).
Baca Juga
‘Tech Winter’ Masih Bayangi Modal Ventura, OJK Ungkap Strategi Adaptasi Industri
Agusman mendorong perusahaan modal ventura untuk terus memperkuat efisiensi operasional, pengelolaan risiko, dan tata kelola. Selain itu, optimalisasi pengelolaan portofolio investasi juga menjadi langkah penting untuk menjaga kinerja industri.
“Perusahaan modal ventura perlu terus memperkuat efisiensi operasional, pengelolaan risiko, tata kelola, serta optimalisasi pengelolaan portofolio investasi,” katanya.
Baca Juga
OJK Godok Revisi POJK Modal Ventura, Laba Industri Turun 5% Meski Pembiayaan Mulai Tumbuh
Hingga Juni 2026, data OJK mencatat, BOPO industri modal ventura berada di level 94,70%. Sementara, laba secara industri mencapai Rp 327,62 miliar.
“Pada Juni 2026, laba industri modal ventura tercatat sebesar Rp 327,62 miliar dengan rasio BOPO sebesar 94,70%,” ucap Agusman.

