Pakar ESG Bantah Tuduhan Dampak Lingkungan Dari Penggunaan Energi untuk Bitcoin
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Dampak lingkungan Bitcoin kembali menjadi perdebatan. Di tengah kritik soal konsumsi energi, air, dan limbah elektronik, pakar Environmental Social and Governance (ESG) Daniel Batten mengungkapkan, banyak tudingan terhadap aktivitas penambangan Bitcoin tidak didukung oleh data ilmiah.
Daniel menyebut, sedikitnya sembilan kritik utama terhadap penggunaan energi Bitcoin bertentangan dengan hasil studi akademik dan data kelistrikan di tingkat jaringan. Ia menilai kritik tersebut umumnya muncul akibat kurangnya pemahaman dan data.
“Setiap teknologi disruptif yang masih baru hampir selalu diiringi klaim-klaim yang lahir dari ketakutan terhadap sesuatu yang belum dipahami,” ujarnya, dilansir dari Cointelegraph, Selasa (6/1/2026).
Baca Juga
Bank of America Izinkan Penasihat Rekomendasikan ETF Bitcoin
Perdebatan ini menguat setelah sejumlah media internasional mengkritik investasi Bitcoin. Pada November lalu, Dow Jones mengecam Universitas Harvard atas keputusan mengalokasikan sebagian dana abadi ke Bitcoin, menyebut aset kripto sebagai ‘mata uang palsu, alat pencucian uang, sekaligus bencana lingkungan’.
Sementara itu, Bloomberg pada Juli menyatakan Bitcoin ‘menghabiskan listrik dan seharusnya digunakan oleh masyarakat miskin dunia’.
Namun, Daniel membantah anggapan bahwa konsumsi energi Bitcoin dihitung per transaksi. Menurutnya, empat studi peer-reviewed menunjukkan bahwa penggunaan energi, air, dan limbah elektronik dalam penambangan Bitcoin tidak bergantung pada jumlah transaksi.
Baca Juga
Ia merujuk pada University of Cambridge 2025 Digital Mining Industry Report yang menyimpulkan bahwa konsumsi energi Bitcoin sebagian besar tak berkorelasi dengan volume transaksi. Dengan beitu, transaksi Bitcoin dapat meningkatkan tanpa diikuti lonjakan penggunaan sumber daya.
Daniel juga menepis klaim bahwa penambang Bitcoin merusak stabilitas jaringan listrik. Ia justru menilai aktivitas tersebut membantu menstabilkan jaringan melalui mekanisme beban fleksibel, terutama di wilayah dengan dominasi energi terbarukan seperti Texas.
Terkait harga listrik, Daniel menyebut tidak ada bukti data maupun penelitian ilmiah yang menunjukkan bahwa keberadaan penambang Bitcoin membuat tarif listrik masyarakat meningkat.
Sebaliknya, dalam beberapa kasus, penambang justru membantu menekan biaya dengan menyerap kelebihan pasokan listrik. Ia juga mengkritik perbandingan konsumsi energi Bitcoin dengan negara-negara tertentu.
Menurut Daniel, pendekatan tersebut menyesatkan karena fokus utama dalam mitigasi perubahan iklim adalah transformasi sumber energi, bukan semata-mata pengurangan konsumsi, sejalan dengan panduan Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC).
Soal jejak karbon, ia menekankan bahwa penambangan Bitcoin tidak menghasilkan emisi langsung dan hanya terkait emisi tidak langsung dari penggunaan listrik. Ia menambahkan, Bitcoin merupakan satu-satunya industri global yang memiliki data pihak ketiga yang menunjukkan lebih dari 50% energinya berasal dari sumber berkelanjutan.
Daniel juga menolak anggapan bahwa sistem proof-of-stake seperti Ethereum lebih ramah lingkungan dibandingkan proof-of-work Bitcoin. Menurutnya, anggapan itu keliru karena menyamakan penggunaan energi dengan dampak lingkungan.
Ia menilai proof of work justru memiliki manfaat tambahan, antara lain mengurangi emisi metana, meningkatkan stabilitas jaringan listrik, memperluas kapasitas energi terbarukan, serta memonetisasi energi terbarukan yang sebelumnya terbuang.

