Di Tengah 'Decline Rate' 24%, PHE Genjot Kenaikan Produksi Minyak Jadi 595 Bph pada 2026
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - PT Pertamina Hulu Energi (PHE), subholding upstream PT Pertamina (Persero) menargetkan produksi minyak mencapai 595 ribu barel per hari (bph) pada 2026, naik dari realisasi 557 ribu barel per hari pada 2025, seiring upaya menjaga ketahanan energi nasional di tengah penurunan alami produksi lapangan migas. PHE memproyeksikan peningkatan produksi melalui kombinasi eksplorasi, pengembangan lapangan, dan penerapan teknologi peningkatan perolehan minyak.
“Harapannya bisa tercapai produksi kami di kisaran 595 ribu barel per hari,” ujar Direktur Perencanaan Strategis, Portofolio dan Komersial PT Pertamina Hulu Energi Edi Karyanto dalam agenda media gathering di Malang, dikutip Minggu (12/4/2026).
Secara rinci, produksi tersebut berasal dari dalam negeri sebesar 404 ribu barel per hari, kontribusi dari aset luar negeri sebesar 156 ribu barel per hari, serta tambahan 35 ribu barel per hari dari hasil merger and acquisition (M&E).
Baca Juga
PHE Siapkan Strategi Dukung Target Pemerintah 1 Juta Barel Minyak 2029, Apa Saja?
Selain minyak, PHE pada 2026 juga menargetkan peningkatan produksi gas menjadi 2,81 miliar standar kaki kubik per hari. Produksi ini terdiri dari 2,44 miliar standar kaki kubik per hari (BSCFD) dari domestik, 279 juta standar kaki kubik per hari dari luar negeri, serta 89 juta standar kaki kubik per hari dari hasil merger dan akuisisi.
Upaya peningkatan produksi dilakukan di tengah tantangan penurunan alami atau decline rate yang mencapai 24% untuk minyak dan 21% untuk gas. Kondisi ini mendorong perusahaan mempercepat program strategis guna menjaga bahkan meningkatkan lifting migas nasional.
Dalam paparannya, PHE menargetkan kontribusi terhadap produksi nasional dengan komposisi 65% minyak dan 35% gas pada 2026. Target ini ditopang oleh proyek pengembangan dan aktivitas eksplorasi yang lebih agresif.
Dia mengatakan, PHE pada 2026 merencanakan pengeboran sekitar 800 sumur eksploitasi dan 16 sumur eksplorasi, serta pelaksanaan survei seismik dua dimensi sepanjang 904 kilometer dan tiga dimensi seluas 1.660 kilometer persegi. Kegiatan ini didukung lebih dari 1.200 pekerja serta tenaga kerja work in work system yang mencapai lebih dari 33.000 orang.
Dalam pengembangan lapangan, PHE mengandalkan optimalisasi aset eksisting melalui teknologi enhanced oil recovery (EOR), seperti steamflood dan chemical flooding. Metode ini digunakan untuk meningkatkan perolehan minyak dari lapangan tua yang produksinya menurun.
Selain itu, perusahaan mengembangkan proyek brownfield dan greenfield di wilayah kerja strategis, seperti Mahakam, Rokan, dan Senoro guna menjaga kesinambungan produksi jangka panjang.
Pada sisi eksplorasi, PHE memperluas kegiatan di wilayah potensial, seperti Natuna dan Jambi melalui survei seismik dan pengeboran sumur baru untuk menemukan cadangan tambahan.
Baca Juga
Harga Minyak Brent dan WTI Tembus Level Tertinggi di Tengah Ancaman Trump
Perusahaan juga mulai menggarap potensi migas non-konvensional melalui multi-stage fracturing serta menjajaki teknologi carbon capture and storage (CCS), yaitu metode penangkapan dan penyimpanan karbon untuk menekan emisi dari kegiatan industri migas.
Edi menegaskan keberhasilan strategi ini sangat bergantung pada dukungan berbagai pihak, terutama percepatan perizinan dan insentif fiskal agar iklim investasi hulu migas tetap menarik di tengah dinamika global.
Dengan strategi tersebut, PHE berharap dapat menjaga peran strategis dalam menopang produksi migas nasional sekaligus mendukung target ketahanan energi Indonesia dalam jangka panjang.

