PHE Siapkan Strategi Dukung Target Pemerintah 1 Juta Barel Minyak 2029, Apa Saja?
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - PT Pertamina Hulu Energi (PHE) sebagai Subholding Upstream PT Pertamina (Persero), menegaskan komitmennya untuk mendukung target produksi minyak nasional mencapai 1 juta barel per hari pada 2029–2030 melalui optimalisasi produksi konvensional, pengembangan energi bersih, serta ekspansi bisnis berbasis kajian ekonomi yang matang, termasuk ke luar negeri.
PT Pertamina Hulu Energi (PHE), menyatakan akan memperkuat peran strategisnya dalam menjaga pasokan energi nasional, sejalan dengan target pemerintah yang dikoordinasikan oleh Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi atau SKK Migas.
Direktur Perencanaan Strategis, Portofolio, dan Komersial PHE Edi Karyanto mengatakan perusahaan saat ini tetap fokus pada penguatan bisnis hulu migas konvensional sebagai tulang punggung energi nasional. “Di sisi bisnis upstream, kita menjadi masif dan utama dalam memberikan ketersediaan energi dalam bentuk konvensional, baik itu minyak maupun gas untuk kebutuhan energi masing-masing,” ujar dia dalam media gathering subholding upstream kepada Investortrust di Batu, dikutip Sabtu (11/4/2026).
Baca Juga
OPEC+ Tambah Produksi, tapi Tak Mampu Redam Lonjakan Harga Minyak
Selain itu, PHE juga mulai mengintegrasikan pengembangan energi bersih dalam portofolionya, termasuk implementasi teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon. Teknologi ini dikenal sebagai carbon capture storage (CCS) dan carbon capture utilization and storage (CCUS), yang berfungsi untuk menangkap emisi karbon dari aktivitas industri dan menyimpannya agar tidak lepas ke atmosfer.
Edi menyebutkan implementasi CCS dan CCUS telah dilakukan secara masif dan bahkan mulai menjadi bagian dari produk bisnis perusahaan, termasuk di wilayah tertentu, seperti cekungan migas di kawasan Asia Tenggara.
Dalam mendukung target produksi 1 juta barel per hari, PHE menegaskan bahwa langkah strategis dilakukan bersama SKK Migas melalui perencanaan terintegrasi. “Kita bersama SKK menuju arah yang sama. Di dalam internal kita, arah perencanaan itu untuk memberikan kontribusi terhadap target 1 juta barel di 2029 atau mungkin 2030,” kata Edi.
Ia menjelaskan bahwa seluruh rencana pengembangan, termasuk eksplorasi minyak non-konvensional maupun ekspansi ke luar negeri, harus melalui kajian kelayakan ekonomi atau feasibility study. Kajian ini menjadi dasar utama dalam memastikan setiap proyek memberikan nilai tambah bagi perusahaan. “Semua yang kita jalankan harus ada rujukan feasibility study-nya. Artinya secara keekonomian harus dalam kondisi menguntungkan dan terkontrol,” ujarnya.
Edi menambahkan bahwa pengembangan minyak non-konvensional di dalam negeri tetap menjadi salah satu fokus. Wilayah tersebut dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai sumber produksi baru, sepanjang memenuhi kriteria kelayakan teknis dan ekonomi.
Baca Juga
Harga Minyak Brent dan WTI Tembus Level Tertinggi di Tengah Ancaman Trump
Di sisi lain, perusahaan juga membuka peluang ekspansi ke luar negeri sebagai bagian dari strategi mencapai target produksi nasional. Pendekatan ini dilakukan melalui kombinasi pertumbuhan organik dan anorganik, termasuk optimalisasi aset yang telah ada serta penambahan wilayah kerja baru.
Ia mengakui bahwa pencapaian target 1 juta barel per hari bukanlah hal yang mudah, mengingat keterbatasan temuan cadangan besar atau giant discovery di dalam negeri dalam beberapa tahun terakhir. Namun demikian, strategi yang terintegrasi diyakini mampu mendukung pencapaian target tersebut secara bertahap.
“Menuju 1 juta barel itu ada yang berasal dari organik dan anorganik. Organik kita lakukan dari aset yang ada, termasuk eksplorasi tambahan. Ini semua kita jalankan secara bertahap,” kata Edi.

