Bahlil dan Purbaya Upayakan Tahan Harga Pertalite dan Solar meski Energi Global Bergejolak
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan pemerintah belum menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, seperti Pertalite dan solar, meski krisis energi global akibat konflik geopolitik terus menekan harga energi dunia.
Kementerian ESDM menyampaikan bahwa pemerintah bersama Kementerian Keuangan (Kemenkeu) terus mencari formulasi kebijakan terbaik untuk menjaga stabilitas harga energi. Bahlil menegaskan upaya ini dilakukan agar daya beli masyarakat tetap terjaga di tengah tekanan global.
Ia mengatakan pemerintah tetap memprioritaskan kepentingan masyarakat meskipun situasi energi dunia sedang tidak menentu. “Saya dengan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sekarang terus-menerus untuk mencari solusi terbaik. Sekalipun krisis, tetapi tetap kami perhatian keadaan rakyat,” ujarnya saat melakukan inspeksi di Jawa Tengah Kamis (26/3/2026) seperti dilansir Antara
Baca Juga
Distribusi Pertalite 2025 Hanya 89,86%, Penghematan BBM Subsidi dan Kompensasi Rp 4,9 T
Lebih lanjut, Bahlil mengungkapkan bahwa Presiden Prabowo Subianto telah memberikan arahan langsung agar kebijakan energi tidak membebani masyarakat. Pemerintah diminta mencari solusi yang seimbang antara stabilitas fiskal dan perlindungan sosial.
“Harga sampai sekarang belum ada kenaikan. Kami belum menaikkan harga. Semalam, arahan Pak Presiden adalah mencari akal bagaimana agar kami jangan memberatkan rakyat, untuk BBM subsidi,” kata Bahlil.
Di tengah tekanan global, pemerintah memastikan bahwa ketersediaan energi nasional masih dalam kondisi aman. Pasokan BBM jenis bensin, solar, serta LPG disebut tetap terjaga untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Meski demikian, Bahlil mengingatkan pentingnya peran masyarakat dalam menjaga stabilitas energi. Ia mengimbau agar konsumsi dilakukan secara bijak dan tidak terjadi penimbunan yang dapat mengganggu distribusi.
Baca Juga
Konsumsi Solar 2026 Diperkirakan Melebihi Kuota, Ini Penyebabnya
Krisis energi global dipicu meningkatnya konflik di kawasan Timur Tengah. Ketegangan meningkat sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada akhir Februari 2026.
Konflik tersebut kemudian berlanjut dengan serangan balasan dari Iran yang menargetkan sejumlah negara di kawasan, termasuk Israel, Yordania, dan Irak. Situasi ini memperbesar risiko gangguan pasokan energi global.
Tekanan semakin meningkat setelah Iran mengambil kendali atas Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi salah satu rute utama distribusi minyak dunia, khususnya bagi negara-negara Asia.

