Amman Mineral (AMMN) Tetap 'Cuan' di Tengah Periode Transisi, Ini Datanya
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) mencatat kinerja keuangan dan operasional sepanjang 2025 di tengah fase transisi besar, dengan penjualan US$ 1,847 miliar dan laba bersih US$ 258 juta, seiring tekanan dari penurunan kadar bijih dan proses peningkatan kapasitas smelter, sekaligus memperkuat posisi sebagai produsen tembaga dan emas terintegrasi di Indonesia.
Perusahaan menjelaskan, 2025 menjadi periode penting dalam transformasi bisnis dari hulu ke hilir melalui entitas anak usaha PT Amman Mineral Nusa Tenggara dan PT Amman Mineral Industri.
Direktur Utama AMMAN Arief Sidarto menyatakan, fase transisi ini dipengaruhi oleh peralihan ke penambangan fase 8 yang memiliki kadar bijih lebih rendah serta proses ramp-up smelter.
Baca Juga
Amman Mineral (AMMN) Incar Kenaikan Produksi Konsentrat 101% di 2026
“2025 merupakan tahun transisi yang sangat penting bagi Amman. Peralihan ke penambangan fase 8 yang ditandai dengan kadar bijih lebih rendah bersamaan dengan proses peningkatan kapasitas smelter, menimbulkan tekanan operasional jangka pendek,” ujar Arief dikutip Kamis (26/3/2026).
Meski menghadapi tantangan, perusahaan berhasil mencapai sejumlah tonggak strategis, termasuk transformasi menjadi produsen tembaga dan emas yang terintegrasi penuh.
Sepanjang 2025, operasional smelter sempat mengalami penghentian sementara pada Juli dan Agustus untuk perbaikan fasilitas utama. Setelah perbaikan selesai, operasi kembali stabil menjelang akhir tahun.
Di sisi hilir, Amman mencatat pencapaian signifikan dengan dimulainya produksi katoda tembaga pada Maret 2025 dan emas murni pada Juli 2025. Hal ini memperkuat nilai tambah dalam rantai pasok mineral. Perusahaan juga memperoleh izin ekspor konsentrat sementara pada akhir Oktober 2025, yang memberikan fleksibilitas selama masa transisi operasional.
Produksi Turun, Margin Tetap Terjaga
Dari sisi operasional, volume material yang ditambang turun 9% secara tahunan, seiring normalisasi pasca-puncak produksi 2024. Produksi konsentrat mencapai 446.563 metrik ton kering atau turun 41% dibandingkan tahun sebelumnya.
Produksi tembaga tercatat 209 juta pon dan emas 102.758 ons, masing-masing turun 47% dan 87% secara tahunan akibat pengolahan bijih berkadar rendah dari Fase 8.
Meski demikian, kinerja tetap melampaui panduan untuk produksi konsentrat dan emas. EBITDA tercatat US$ 1.057 juta dengan margin 57%, meningkat dibandingkan margin tahun sebelumnya sebesar 54%. Perusahaan menyebut, margin yang tetap tinggi didorong oleh pergeseran ke hilirisasi, efisiensi biaya, serta harga logam yang lebih kuat.
Baca Juga
Laba Amman (AMMN) Turun Jadi US$ 258 Juta di 2025, Transisi Ini Jadi Penekan
Penjualan bersih 2025 turun dari US$ 2,664 miliar pada 2024 menjadi US$ 1,847 miliar. Penurunan ini dipengaruhi oleh perubahan kebijakan penjualan yang hanya memperbolehkan produk logam jadi.
Komposisi penjualan terdiri dari US$ 806 juta katoda tembaga, US$ 454 juta emas murni, dan US$ 587 juta konsentrat. Sekitar 70% penjualan terjadi pada kuartal IV, seiring stabilnya operasi smelter dan pemurnian.
Biaya penambangan per unit meningkat 10% menjadi US$ 2,54 per ton, dipicu jarak angkut yang lebih jauh, harga bahan bakar lebih tinggi, dan volume produksi yang menurun. Sementara itu, total utang perusahaan mencapai US$ 6,432 miliar per akhir 2025, naik 50% secara tahunan. Dengan kas sebesar US$ 677 juta, utang bersih tercatat US$ 5,756 miliar.
2026 Fokus Stabilitas dan Ekspansi
Memasuki 2026, Amman menargetkan produksi 900.000 metrik ton kering konsentrat yang mengandung 485 juta pon tembaga dan 579.000 ons emas. Perusahaan juga menempatkan stabilitas smelter sebagai prioritas utama, di tengah proses peningkatan kapasitas fasilitas baru.
Selain itu, sejumlah proyek ekspansi strategis terus berjalan, termasuk pembangunan pembangkit listrik tenaga gas dan uap berkapasitas 450 MW, fasilitas regasifikasi LNG, serta ekspansi pabrik konsentrator yang ditargetkan selesai pada kuartal III 2026.
Baca Juga
Kontribusi Amman Mineral ke Ekonomi RI Capai Rp 173 Triliun Sepanjang 2018–2024
Arief menegaskan, prospek jangka panjang tetap kuat meski menghadapi tekanan jangka pendek. “Terlepas dari tantangan jangka pendek, fundamental jangka panjang untuk komoditas tembaga dan emas tetap sangat kuat,” ujarnya.
Sepanjang 2025, pemerintah juga memberlakukan sejumlah kebijakan baru, termasuk kenaikan tarif royalti dan bea keluar untuk produk emas. Kebijakan ini turut memengaruhi struktur biaya dan strategi bisnis perusahaan.
Di sisi lain, studi kelayakan tambang Elang telah diselesaikan dan akan memanfaatkan infrastruktur Batu Hijau untuk mendukung pengembangan jangka panjang.

