Presiden Iran Sebut Ancaman AS Tanda “Keputusasaan”
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyebut ancaman Amerika Serikat (AS) untuk menyerang infrastruktur energi Iran sebagai bentuk “keputusasaan”, di tengah eskalasi konflik yang terus meluas di Timur Tengah.
Pernyataan tersebut disampaikan pada Minggu (22/3/2026), sebagaimana dilaporkan BBC dalam laporan langsung yang diterbitkan pada 22 Maret 2026. Pezeshkian menegaskan bahwa Selat Hormuz tetap terbuka bagi pelayaran internasional, kecuali bagi pihak yang dianggap melanggar kedaulatan Iran.
Baca Juga
AS-Iran Saling Ancam, Harga Minyak Diperkirakan Terus Bergolak
Pernyataan ini muncul sehari setelah Presiden AS Donald Trump, pada Sabtu (21/3/2026), mengancam akan “menghancurkan” fasilitas pembangkit listrik Iran jika Teheran tidak membuka penuh Selat Hormuz dalam waktu 48 jam. Jalur tersebut merupakan salah satu chokepoint energi paling vital di dunia, yang dilalui sekitar 20% perdagangan minyak global.
Dalam perkembangan terbaru, Duta Besar AS untuk PBB Mike Waltz juga menegaskan bahwa tidak ada opsi yang dikesampingkan, termasuk kemungkinan serangan terhadap fasilitas nuklir Iran, sebagaimana dikutip dari laporan Reuters dan wawancara di CBS pada hari yang sama.
Di lapangan, konflik terus memanas. Layanan darurat Israel melaporkan sedikitnya satu orang tewas dan lebih dari 160 orang terluka akibat serangan rudal Iran dalam 24 jam terakhir hingga Minggu (22/3/2026).
Baca Juga
Serangan baru juga dilaporkan terjadi di Teheran, sementara Arab Saudi dan Uni Emirat Arab menyatakan telah mencegat sejumlah rudal yang melintas di wilayah mereka pada pagi hari yang sama. Sumber lain seperti Al Jazeera dan Associated Press mencatat bahwa eskalasi konflik kini melibatkan banyak front, termasuk Iran, Israel, Lebanon, dan negara-negara Teluk.
Dengan saling ancam antara Washington dan Teheran serta meluasnya serangan lintas negara, konflik ini tidak hanya menjadi konfrontasi militer, tetapi juga berkembang menjadi krisis energi global yang berpotensi mengganggu stabilitas pasokan minyak dan keamanan kawasan secara keseluruhan.

