Ekspor Perikanan RI Tembus Rp 16,7 Triliun Sejak Awal Tahun hingga Jelang Lebaran
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mencatat nilai ekspor perikanan sejak awal 2026 sampai menjelang Lebaran mencapai US$ 983,147 juta atau sekitar Rp 16,7 triliun.
"Sampai penghentian sementara angkutan barang pada 13 Maret 2026 lalu, sistem kami mencatat bahwa ekspor ikan ke berbagai negara telah mencapai 197.718,80 ton yang ditaksir nilainya mencapai Rp 16,7 triliun,” ujar Kepala Badan Pengendalian dan Pengawasan Mutu Hasil Kelautan dan Perikanan (Badan Mutu) KKP Ishartini, Rabu (18/3/2026).
Baca Juga
KKP: Rumput Laut Jadi Komoditas Perikanan Paling Diminati Investor
Ishartini menjelaskan, jumlah tersebut tersebut didapat berdasarkan data penerbitan Sertifikat Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (SMKHP) yang diterima oleh otoritas negara tujuan ekspor. Sertifikat itu menjadi syarat pemenuhan standar keamanan pangan di 140 negara mitra perdagangan produk perikanan Indonesia.
Adapun 10 negara dengan penyerapan produk perikanan Indonesia terbesar, yaitu Amerika Serikat, Tiongkok, Jepang, Vietnam, Thailand, Malaysia, Australia, Arab Saudi, Taiwan, dan Singapura. Sedangkan produk perikanan yang diperdagangkan ke berbagai negara terus mengalami diversifikasi.
“Contohnya saat ini jenis produk perikanan yang diekspor telah mencapai 486 HS code yang dapat berisi ribuan variasi tipe produk dengan 10 besar komoditas unggulan adalah udang vanname, tuna, cumi-cumi, rajungan, rumput laut, cakalang, kepiting, udang windu, ikan layur serta gurita. Hal tersebut membuktikan bahwa keberterimaan ikan Indonesia di pasar global sangat baik serta dipercaya mutu dan keamanannya,” jelas Ishartini.
Selain mendorong nilai ekspor, Ishartini menambahkan, pihaknya juga mengupayakan peningkatakan penyerapan produk perikanan di dalam negeri. Hal ini untuk menjaga stabilitas nilai perdagangan perikanan khususnya di tengah eskalasi geopolitik di Timur Tengah.
Ishartini tidak menampik bahwa kondisi geopolitik di Timur Tengah berdampak pada aktivitas ekspor perikanan. Berdasarkan data, ekspor ikan saat ini dibandingkan periode yang sama pada 2025 mengalami penurunan volume sebesar 41,35% yang berdampak pada penurunan nilai ekspor sebesar 21,71%.
Baca Juga
KKP Sebut Impor Perikanan Ilegal RI Paling Banyak dari China, Masuk Lewat Jalur Ini
"Untuk demand produk perikanan Indonesia saat ini relatif masih stabil, indikasinya dari permohonan SMKHP yang terus kami layani. Hanya saja memang dari sisi volume agak terkendala karena transportasi dalam rantai pasok terkena imbas eskalasi misalnya perubahan rute shipment, biaya tambahan logistik, kontainer dan mother vessel yang terbatas, semuanya berkontribusi menaikkan harga produk,” terangnya.
Ishartini menyampaikan bahwa pemerintah tidak menutup mata terhadap perkembangan situasi global tersebut. Komunikasi intens dilakukan terhadap otoritas di negara mitra, maupun dengan stakeholder di Indonesia.
Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono dalam berbagai kesempatan menegaskan bahwa quality assurance hulu-hilir yang telah terbangun di KKP merupakan hal yang sangat penting dalam menjaga keberterimaan dan menguatkan daya saing ikan Indonesia di kancah global.

