Pertamina Geothermal (PGEO) Edukasi Model Bisnis Panas Bumi di Depan Mahasiswa Unpar Bandung
Poin Penting
|
BANDUNG, investortrust.id – PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) mengedukasi mahasiswa Universitas Katolik Parahyangan (Unpar)-Bandung, terkait proses bisnis dan potensi panas bumi sebagai salah satu energi baru terbarukan (EBT).
Melalui Investortrust Youth Seminar bertema ‘Meraup Cuan dari Saham Energi’. PGE ingin memperkenalkan cara kerja pembangkit listrik panas bumi, serta prospek energi terbarukan di Indonesia.
Manager Partnership & Portfolio Management PT Pertamina Geothermal Energy Lufan Nassya Faswara memaparkan, prinsip dasar energi panas bumi sebenarnya cukup sederhana, yakni memanfaatkan uap bertekanan untuk menghasilkan listrik.
“Panas bumi itu pada dasarnya adalah steam. Analogi sederhananya seperti memanaskan air di teko. Ketika air mencapai titik didih tertentu, akan menghasilkan uap. Uap yang memiliki tekanan inilah yang kemudian dimanfaatkan untuk menghasilkan tenaga listrik,” jelas Lufan di Unpar, Selasa (10/3/2026).
Ia menjelaskan, panas bumi terbentuk dari aktivitas magma di dalam perut bumi yang memiliki suhu sangat tinggi, sekitar 400-500 derajat Celcius. Panas tersebut kemudian mendidihkan air yang berada di dalam reservoir di bawah permukaan bumi.
Reservoir panas bumi umumnya berada pada kedalaman sekitar 1-3 kilometer dengan suhu berkisar 230-330 derajat Celcius. Air yang dipanaskan dalam reservoir akan menghasilkan uap yang kemudian dimanfaatkan untuk menggerakkan turbin pembangkit listrik.
Baca Juga
Konflik Iran Tak Pengaruhi Kinerja Pertamina Geothermal (PGEO), Saham Tetap Menguat
Di atas reservoir tersebut biasanya terdapat lapisan batuan pelindung yang berfungsi menjaga tekanan dan keberlanjutan sistem panas bumi.
Menurut Lufan, Indonesia memiliki potensi panas bumi yang besar karena berada di wilayah cincin api (ring of fire) dengan banyak gunung berapi, serta dilewati lempeng tektonik aktif.
“Di Indonesia banyak pegunungan vulkanik yang dilewati lempeng tektonik. Kondisi ini yang membuat potensi panas bumi di Indonesia menjadi sangat prospektif,” jelasnya.
Ia menambahkan, keberadaan sumber panas bumi biasanya dapat diidentifikasi dari beberapa indikator alami, seperti fumarole atau semburan uap serta kawah air panas yang muncul di permukaan.
Selain memiliki potensi besar, energi panas bumi juga dikenal sebagai sumber energi yang berkelanjutan. Sistem reservoir panas bumi mampu menjaga keberlanjutan aliran uap sehingga dapat dimanfaatkan dalam jangka waktu panjang.
Baca Juga
Produksi 2025 ATH, Pendapatan Pertamina Geothermal (PGEO) Naik 6,29%
Sebagai contoh, PGE mengelola lapangan panas bumi Kamojang di Garut-Jawa Barat yang telah dimanfaatkan sejak 1920-an.
“Di Kamojang ada satu sumur yang sudah digunakan sejak 1920. Artinya sudah lebih dari 100 tahun dan sampai sekarang uapnya masih mengalir. Ini menunjukkan bahwa keberlanjutan panas bumi bisa dikelola dengan baik,” tandas Lufan.

