PHE Siapkan 16 Sumur Eksplorasi dan 800 Sumur Produksi pada 2026
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - PT Pertamina Hulu Energi (PHE), subholding hulu PT Pertamina (Persero) yang mengelola sekitar 27% wilayah kerja minyak dan gas bumi (WK migas) di Indonesia, memperkuat strategi peningkatan produksi migas nasional sekaligus mengembangkan bisnis energi rendah karbon guna menjaga ketahanan energi Indonesia di tengah dinamika industri energi global.
Pada 2026, PHE merencanakan pengeboran 16 sumur eksplorasi dan sekitar 800 sumur eksploitasi.
Direktur Perencanaan Strategis, Portofolio dan Komersial PHE Edi Karyanto mengatakan perusahaan terus menjalankan berbagai program strategis untuk menjaga keberlanjutan produksi migas nasional di tengah tantangan geopolitik dan kompleksitas operasional yang semakin meningkat.
Ia menilai penguatan kegiatan eksplorasi dan pemanfaatan teknologi menjadi faktor penting dalam mempertahankan tingkat produksi sekaligus membuka potensi cadangan baru.
Baca Juga
PHE Dongkrak 'Lifting' Minyak Jadi 386.000 BOPD pada Februari 2026
“Optimalisasi lapangan eksisting, pengembangan, serta penerapan teknologi peningkatan produksi akan menjadi faktor kunci dalam menjaga keberlanjutan produksi migas nasional, sekaligus membuka potensi sumber daya baru di berbagai cekungan migas Indonesia,” ujar Edi Karyanto dalam kegiatan Media Engagement Subholding Upstream Pertamina di Jakarta, Selasa (10/3/2026).
Memasuki 2026, PHE menyiapkan sejumlah program untuk mengelola penurunan alami produksi lapangan migas atau natural decline serta meningkatkan volume produksi nasional.
Perusahaan merencanakan pengeboran 16 sumur eksplorasi dan sekitar 800 sumur eksploitasi. Selain itu, kegiatan pemeliharaan sumur melalui workover ditargetkan mencapai 1.284 pekerjaan sepanjang tahun.
PHE juga merencanakan survei seismik dua dimensi sepanjang 904 kilometer serta survei seismik tiga dimensi seluas sekitar 1.660 kilometer persegi untuk mendukung identifikasi potensi sumber daya baru.
Selain itu, perusahaan menargetkan kegiatan well intervention well service atau WIWS hingga sekitar 33.000 pekerjaan. Kegiatan ini bertujuan menjaga produktivitas sumur yang telah beroperasi serta meningkatkan efisiensi produksi migas.
Strategi peningkatan produksi juga dilakukan melalui pengembangan lapangan yang telah beroperasi atau brownfield, pembangunan lapangan baru atau greenfield, serta penerapan teknologi enhanced oil recovery atau EOR untuk meningkatkan tingkat perolehan minyak dari reservoir.
Baca Juga
PHE Perkuat Produksi Migas Nasional, Industri Asuransi Jadi Mitra Strategis
Di sisi lain, PHE juga memperkuat eksplorasi potensi sumber daya baru termasuk minyak non-konvensional (MNK) serta menjajaki peluang kerja sama strategis melalui akuisisi aset energi.
Perusahaan juga menjalankan strategi pertumbuhan ganda atau dual growth strategy, yaitu memaksimalkan bisnis inti migas sekaligus mengembangkan energi rendah karbon. Strategi tersebut dilakukan melalui pengembangan teknologi carbon capture storage (CCS) serta carbon capture utilization and storage (CCUS) yang berfungsi menangkap dan menyimpan emisi karbon dari proses industri.
Selain itu, perusahaan juga menjalankan berbagai program dekarbonisasi operasional guna mengurangi emisi dan meningkatkan efisiensi energi dalam kegiatan produksi migas.
Langkah tersebut sejalan dengan upaya pemerintah dalam meningkatkan produksi migas nasional sekaligus mendukung transisi menuju sistem energi yang lebih bersih.
Sepanjang 2025, produksi migas PHE tercatat mencapai sekitar 1 juta barel setara minyak per hari atau million barrel oil equivalent per day (MMBOEPD). Produksi tersebut terdiri dari 557 ribu barel minyak per hari dan sekitar 2,8 miliar kaki kubik gas per hari.
Selain menjaga stabilitas produksi, perusahaan juga mencatat penemuan sumber daya baru hingga sekitar 1 miliar barel setara minyak (BBOE). Pencapaian tersebut didukung penerapan berbagai teknologi peningkatan produksi, termasuk multistage fracturing, steam flood, serta chemical enhanced oil recovery atau CEOR yang digunakan untuk meningkatkan perolehan minyak dari lapangan yang telah berproduksi.

