Meski Target Produksi Batu Bara Dipangkas, Emiten Ini (AADI) Disebut masih Diuntungkan
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Pemerintah berencana untuk menurunkan target produksi batu bara tahunan dari 790 juta ton pada 2025 menjadi 600 juta ton pada 2026. Kebijakan ini bisa menjadi sentimen negatif yang cukup kuat bagi industri batu bara nasional.
Mayoritas perusahaan tambang akan mencatat penurunan kuota Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) sekitar 9-80% dari volume yang diajukan. Pemangkasan kuota tersebut sejalan dengan arahan tahunan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), seiring pelemahan harga batu bara global akibat permintaan dari China dan India turun.
Baca Juga
APBI Keberatan Pemangkasan Produksi Batu Bara 2026 hingga 70% karena Tekan Kelangsungan Usaha
Meski demikian, Sucor Sekuritas dalam riset yang diterbitkan beberapa waktu lalu menyebutkan bahwa beberapa emiten besar seperti PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI), PT Bumi Resources Tbk (BUMI), dan PT Indika Energy Tbk (INDY) melalui Kideco diperkirakan mampu untuk mempertahankan tingkat produksinya.
Hal ini mencerminkan skala usaha dan peran strategis emiten-emiten tersebut dalam menjaga pasokan batu bara ke PLN melalui skema domestic market obligation (DMO).
Adapun, perusahaan segmen jasa kontraktor tambang diperkirakan menjadi emiten yang paling terdampak negative atas kebijakan tersebut. Di antaranya, PT Mandiri Herindo Adiperkasa Tbk (MAHA) dan PT United Tractors Tbk (UNTR) yang bisa mengalami kinerja dari segmen ini.
Berdasarkan estimasi, setiap penurunan volume pengangkutan sebesar 1 juta ton berpotensi menekan laba MAHA hingga sekitar 8%. BYAN sebagai klien terbesar MAHA menyumbang sekitar 42% dari total volume pengangkutan batu bara, sementara produksi BYAN tumbuh 53% secara tahunan.
Baca Juga
Komisi XII Dorong DMO Batu Bara Fleksibel dan Terukur untuk Ketahanan Energi
“Kondisi ini membuat MAHA berpotensi mengalami penurunan laba yang signifikan. Proyeksi kinerja akan ditinjau kembali setelah terdapat kejelasan lebih lanjut dari pihak perusahaan,” tulis riset tersebut.
Begitu juga dengan UNTR juga terekspos terhadap risiko kebijakan ini, mengingat lebih dari 50% bisnis perseroan masih berkaitan dengan industri batu bara. Segmen kontraktor tambang melalui PAMA menjadi yang paling terdampak. Penurunan produksi batu bara juga berdampak pada melemahnya permintaan alat berat perseroan.
Baca Juga
IHSG Diprediksi Lanjutkan Penurunan, Tiga Saham Dipimpin ASII Layak Dilirik
Di sisi lain, Adaro Andalan (AADI) akan menjadi perusahaan yang paling diuntungkan dari kebijakan ini. Sebagai produsen batu bara murni, AADI dipandang sebagai produsen berbiaya rendah dengan tingkat imbal hasil dividen sekitar 10%, serta berada pada posisi yang diuntungkan dari harga batu bara yang relatif lebih tinggi.
Hal ini mendorong Sucor Sekuritas untuk menetapkan saham AADI sebagai pilihan teratas dengan target harga Rp 30.100 dengan rekomendasi dipertahankan beli. Sisanya saham INDY dengan target harga Rp 3.300 dan MAHA dengan target harga Rp 153.

