Bagikan

Konflik Timur Tengah Berpotensi Kerek Harga Smartphone di Indonesia, Mengapa?

Poin Penting

Pelemahan Rupiah terhadap Dolar AS meningkatkan biaya impor komponen utama seperti chipset dan layar. ​
Potensi gangguan di Selat Hormuz memicu lonjakan harga minyak bumi dan tarif pengiriman global. ​
Produsen terdesak menaikkan harga jual atau memangkas spesifikasi akibat kenaikan biaya produksi (COGS).

JAKARTA, investortrust.id - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah dinilai berpotensi menekan harga smartphone di pasar domestik. Industri nasional disebut memiliki ketergantungan tinggi terhadap rantai pasok global.

Pengamat dan Analis Pasar Smartphone di Indonesia Aryo Medianto menilai ada dua faktor utama yang menghubungkan konflik kawasan tersebut dengan harga perangkat di Indonesia. Keduanya berkaitan dengan nilai tukar dan biaya logistik global.

Faktor pertama adalah tekanan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Seluruh transaksi impor komponen utama seperti chipset, panel layar, dan baterai menggunakan denominasi dolar AS.

“Dengan posisi rupiah yang saat ini berada di kisaran Rp 16.900 per USD, dan berpotensi mengalami tekanan lebih lanjut akibat ketidakpastian geopolitik, terjadi peningkatan signifikan pada cost of goods sold (COGS) bagi produsen dan distributor,” ujar Aryo kepada investortrust.id. Selasa (3/3/2026).

Faktor kedua terkait potensi gangguan di Selat Hormuz yang dapat memicu lonjakan harga minyak mentah global. Kenaikan harga energi akan berdampak langsung pada tarif logistik laut dan darat.

Baca Juga

Relaksasi TKDN Produk AS Bisa Bebaskan Apple Inc dan Google Rilis Smartphone di Tanah Air, tetapi..

Selain itu, harga resin plastik sebagai turunan minyak bumi juga terancam naik. Material ini digunakan secara luas untuk casing, komponen internal, hingga kemasan produk smartphone.

Ketika biaya produksi dan distribusi meningkat secara bersamaan, produsen menghadapi tekanan margin. Pilihannya terbatas antara menaikkan harga jual atau melakukan efisiensi pada spesifikasi produk.

“Opsi yang tersedia hanya dua, menaikkan harga jual akhir (selling price), atau melakukan efisiensi yang kerap berujung pada penyesuaian spesifikasi di kelas harga yang sama,” jelasnya.

Aryo menilai potensi kenaikan harga perangkat dalam waktu dekat cukup realistis. Terlebih, pasar smartphone Indonesia masih didominasi segmen harga menengah ke bawah yang sensitif terhadap perubahan harga.

The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024