Harga Nikel Tertekan di Bawah US$ 15.000 per Ton di Tengah Konflik Timur Tengah
JAKARTA, investortrust.id - Di tengah eskalasi konflik bersenjata Iran dengan Israel, harga komoditas nikel mengalami pelemahan pada penutupan perdagangan US$ 14.799 pada Senin (23/6/2025) dibanding hari sebelumnya.
Dikutip dari Tradingeconomics, harga nikel terpantu berada di level US$ 14.830 per ton pada Jumat (20/6/2025). Angka tersebut mengalami penurunan 1,53% dibandingkan hari sebelumnya sebesar US$ 15.060 per ton.
Baca Juga
Cadangan Nikel 5,3 Miliar Ton, Indonesia Bisa Jadi Pemain Utama Ekosistem EV
Kontrak berjangka nikel turun di bawah US$ 15.000 per ton, terendah dalam lebih dari 2 bulan, karena pemangkasan produksi dari Indonesia tidak cukup untuk menangkal pandangan pasar yang kelebihan pasokan.
Pemerintah Indonesia diketahui mengurangi kuota penambangan nikel sebesar 120 juta ton menjadi 150 juta ton tahun ini, memotong pasokan global sebesar 35% dari level saat ini. Hal ini disebabkan lonjakan proyek peleburan China di Indonesia setelah yang terakhir melarang ekspor bijih nikel pada 2020.
Baca Juga
Gag Nikel Siap Menambang Lagi? Ini Sinyal dari Kementerian ESDM
Secara konsisten, waran nikel yang tersedia di gudang London Metal Exchange (LME) naik sebesar 30.000 ton sejak awal tahun menjadi 180.450 pada pertengahan Juni.
Sementara itu, keraguan masih ada terkait apakah Gedung Putih akan menahan diri dari menghidupkan kembali tarif agresif terhadap mitra dagang menjelang batas waktu 9 Juli juga memberikan tekanan pada logam dasar.

