Banyak Pasien Indonesia ke Malaysia, Pendiri Primaya Hospital: Devisa Menguap
Poin Penting
|
JAKARTA, invesotrtrust.id - Pendiri Primaya Hospital atau PT Famon Awal Bros Sedaya Tbk, Yos E Susanto mengatakan banyaknya masyarakat Indonesia yang berobat ke Malaysia menjadi fenomena tersendiri. Sebab, devisa sebesar Rp 160 triliun - Rp 200 triliun menguap ke luar negeri.
“Di satu pihak kita masih punya kelemahan. Kenapa orang mau berobat di luar negeri? Padahal sekarang rumah sakit sudah banyak, rumah sakit pemerintah sudah bagus-bagus,” kata Yos, saat berkunjung di kantor investortrust.id, Jakarta, Kamis (26/2/2026).
Yos menyebut terdapat dua alasan masyarakat berobat di luar negeri. Pertama adalah soal biaya yang lebih murah.
Dia mengatakan bahwa untuk mendapatkan kualitas kesehatan yang baik, setiap orang selalu menyesuaikan dengan kemampuan finansial masing-masing. Sama halnya dengan warga Amerika Serikat (AS) yang menurut Yos banyak yang memilih berobat keluar negeri. Kendati kualitas layanan dan teknologi kesehatan di AS sudah sangat baik, tapi biayanya juga mahal.
“Jadi, faktor biaya mau nggak mau jadi pertimbangan,” ujar dia.
Baca Juga
Nilai pasar Capai US$ 56,4 Miliar, Kemenpar dan Kemenkes Perkuat 'Wellness Tourism' Domestik
Pertimbangan berikutnya adalah kualitas pelayanan. Kualitas ini memiliki beberapa aspek di antaranya aspek technical care. Artinya keterampilan, dokter, dan peralatan rumah sakit.
“Selain technical care, yang penting adalah interpersonal care,” jelas dia.
Yos menjelaskan interpersonal care itu adalah bagaimana layanan yang diberikan oleh para petugas medis. Dokter perlu menyediakan banyak waktu untuk berkomunikasi dengan pasien.
“Kalau orang nggak punya rasa percaya sama dokternya, nggak nyaman, dia pasti nggak akan milih dokter (atau rumah sakit) itu,” kata dia.
Baca Juga
Ekspansi Tak Asal Buka, Ini Cara Primaya Hospital (PRAY) Pilih Lokasi
Aspek ketiga yaitu akses rumah sakit. Yos menilai akses bukan hanya perkara kemudahan menuju rumah sakit, yang dianggap menjadi pertimbangan penting bagi pasien. Akses menurut Yos juga terkait dengan jadwal temu pasien yang tepat waktu.
“Akses itu mencakup bagaimana pertemuan (dengan dokter). Itu juga memengaruhi,” ujar dia.
Menurut Yos, aspek lain yang mendukung yaitu kontinuitas atau kesinambungan. Dia menyontohkan bagaimana rumah sakit di Malaysia yang cepat menghasilkan diagnosa terhadap pasien.
“Ada orang yang bilang bahwa kalau di Malaysia misalnya orang periksa kanker, di sana beberapa hari, tiga hari sudah selesai. Pengalaman kita biasanya (untuk menunggu) hasil biopsi (membutuhkan waktu) sekitar dua minggu,” kata dia.
Yos mengatakan ada rumah sakit yang relatif bagus dari sisi keterampilan petugas medisnya, serta kualitas perawatannya. Namun secara keseluruhan diakuinya belum mendukung hasil uji cepat terhadap pasien.
Aspek terakhir yang menjadi pertimbangan yaitu soal kenyamanan. Meski rumah sakitnya tidak mewah, namun kenyamanan akan membuat pasien berkenan untuk terus dilayani secara medis di fasilitas kesehatan lokal.
“Makanya kalau Bali mau dijadikan itu (Kawasan Ekonomi Khusus kesehatan) itu juga bagus,” kata dia.

