Nilai pasar Capai US$ 56,4 Miliar, Kemenpar dan Kemenkes Perkuat 'Wellness Tourism' Domestik
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Indonesia memiliki kekuatan intrinsik di sektor wellness tourism atau wisata kesehatan yang tidak dimiliki banyak negara lain. Tradisi herbal yang mengakar, praktik pemulihan tubuh dan pikiran yang diwariskan turun-temurun, serta keragaman bentang alam yang memungkinkan hadirnya pengalaman penyembuhan alami menjadikan Indonesia sebagai salah satu pemain utama di kawasan.
Nilai pasar wellness tourism nasional bahkan mencapai US$ 56,4 miliar dengan pertumbuhan 6,65% pada periode 2019–2023. Besarnya nilai tersebut menempatkan Indonesia sebagai pasar wellness tourism terbesar di Asia Tenggara dan salah satu yang tumbuh paling cepat di Asia Pasifik. Dengan demikian, Kementerian Pariwisata dan Kementerian Kesehatan RI sepakat bahwa penguatan sektor wellness tourism diharapkan dapat menekan keluarnya devisa yang mencapai US$ 6 miliar setiap tahun akibat sekitar 2 juta warga Indonesia berobat ke luar negeri.
Potensi besar inilah yang melandasi penguatan sinergi antara Kementerian Pariwisata dan Kementerian Kesehatan yang pada Jumat (21/11/2025) menandatangani nota kesepahaman (MoU) untuk mengembangkan wisata kesehatan nasional.
Penandatanganan MoU oleh Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana dan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin di Jakarta tersebut menjadi langkah strategis dalam membangun kolaborasi lintas sektor. Menpar Widiyanti menegaskan bahwa kerja sama ini merupakan upaya konkret meningkatkan kualitas layanan kesehatan dan pariwisata demi menghadirkan wisata kesehatan yang berkualitas, berkesinambungan, dan berdaya saing. Ia menilai bahwa besarnya pasar wellness dan peluang penguatan medical tourism harus dimanfaatkan secara serius sebagai momentum membangun layanan kelas dunia di dalam negeri.
MoU tersebut menjadi dasar kolaborasi dalam penyusunan kebijakan wisata kesehatan, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, pemanfaatan data dan informasi, promosi serta investasi layanan kesehatan, hingga pembentukan kelompok kerja pariwisata kesehatan.
Baca Juga
Kemenpar–Kemenkes Perkuat Wisata Kesehatan Demi Tekan Devisa Bocor US$ 6 Miliar
Menpar Widiyanti menjelaskan bahwa Indonesia memiliki ruang strategis untuk mengembalikan potensi devisa yang selama ini bocor ke luar negeri dengan memperkuat ekosistem layanan medis dan wellness tourism di Tanah Air. Di sisi lain, Indonesia juga memiliki kekuatan komplementer berupa bentang alam yang mendukung pengalaman wellness tourism yang autentik.
“Kekuatan pasar wellness yang terus meningkat perlu dimanfaatkan sebagai momentum percepatan pengembangan medical dan wellness tourism,” ujar Menpar, Jumat (21/11/2025).
Melalui sinergi dengan Kemenkes, kedua kementerian sepakat menyusun roadmap wisata kesehatan yang lebih terarah sekaligus membentuk kelompok kerja untuk memastikan pelaksanaan program berjalan end to end secara efektif. Penguatan promosi, kurasi layanan, penetapan standar pelayanan, hingga pengembangan produk prioritas juga akan dilakukan bersama, termasuk penyelenggaraan forum industri dan investasi untuk memperkuat ekosistem pendukung.
Menpar Widiyanti menyoroti pentingnya peningkatan kompetensi SDM, mulai dari pelatihan bahasa Inggris dan hospitality bagi tenaga kesehatan, pelatihan first aid bagi pemandu wisata, hingga pelatihan berbasis kompetensi untuk pekerja di sektor wellness. Ia optimistis bahwa peningkatan fasilitas dan layanan medis yang sedang dilakukan Kemenkes akan mendukung peningkatan peringkat daya saing pariwisata nasional (TTDI).
Menpar menargetkan Indonesia mampu naik dari peringkat 22 menjadi 20, bahkan menembus 10 besar dunia. “Saya berharap penandatanganan MoU hari ini menjadi awal dari kolaborasi yang lebih terarah dan berkelanjutan,” katanya.
Sementara itu dalam kesempatan yang sama Menkes Budi Gunadi Sadikin menyambut baik kerja sama ini dan menegaskan bahwa integrasi antara sektor kesehatan dan pariwisata dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8%.

