Hilirisasi Bauksit Dorong Margin dan Daya Saing Industri Nasional
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Hilirisasi mineral kini menjadi mesin penciptaan nilai tambah bagi BUMN tambang, bukan sekadar proyek fisik smelter. Melalui integrasi rantai pasok bauksit hingga aluminium, Grup MIND ID mengubah komoditas mentah menjadi aset industri bernilai tinggi yang berdampak pada margin, daya saing global, hingga valuasi jangka panjang perusahaan. Strategi ini sekaligus memperkuat fondasi industrialisasi nasional dan penciptaan lapangan kerja formal di dalam negeri.
Kebijakan hilirisasi mineral nasional sebelumnya telah didorong pemerintah sebagai bagian transformasi struktur ekonomi. Anggota Komisi XII DPR RI Eddy Soeparno menilai kebijakan tersebut menjadi instrumen strategis dalam menciptakan lapangan kerja berkualitas dan berkelanjutan.
Baca Juga
Tata Kelola Investasi dan Hilirisasi Kunci Keluar dari 'Middle Income Trap'
“Kami menyambut positif kebijakan hilirisasi karena dampaknya sangat konkret terhadap penciptaan lapangan kerja, terutama tenaga kerja formal yang terampil dan memiliki nilai tambah tinggi,” ujar anggota Komisi XII DPR RI Eddy Soeparno dikutip Jumat (20/2/2026).
Menurut Eddy, salah satu contoh konkret berasal dari pengembangan ekosistem pengolahan dan pemurnian bauksit–alumina–aluminium terintegrasi yang dijalankan MIND ID sebagai holding industri pertambangan milik negara. Proyek ini tidak hanya berorientasi pada pembangunan fasilitas smelter, tetapi membangun rantai nilai dari hulu hingga hilir agar nilai tambah tetap berada di dalam negeri.
Berdasarkan dokumen pra-feasibility study yang disusun oleh BPI Danantara bersama Satuan Tugas Hilirisasi, proyek strategis tersebut memiliki nilai investasi sekitar Rp 60 triliun dan diproyeksikan mampu menyerap hingga 14.700 tenaga kerja baru, baik pada fase konstruksi maupun saat operasional.
Skala investasi tersebut dinilai berpotensi menciptakan efek berganda terhadap perekonomian nasional. Selain menyerap tenaga kerja langsung di sektor industri pengolahan, proyek itu diperkirakan mendorong pertumbuhan sektor logistik, jasa penunjang, hingga pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah di sekitar kawasan industri. “Investasi seperti ini akan menggerakkan ekosistem ekonomi di sekitarnya, mulai sektor logistik, jasa pendukung, hingga UMKM lokal,” katanya.
Relevansi hilirisasi semakin kuat karena Indonesia masih bergantung pada impor aluminium. Kebutuhan aluminium nasional mencapai sekitar 1,2 juta ton per tahun, dengan sekitar 54% masih dipenuhi dari luar negeri. Ketergantungan tersebut selama ini menekan neraca perdagangan sekaligus membatasi potensi nilai tambah domestik.
Baca Juga
Proyek Hilirisasi Nasional Rp 618 triliun 2026 Targetkan 276.800 Lapangan Kerja
Di sisi lain, Indonesia memiliki sumber daya bauksit sekitar 7,78 miliar ton dan cadangan 2,86 miliar ton. Potensi itu menjadi fondasi strategis untuk membangun industri aluminium nasional yang terintegrasi dan berdaya saing global, termasuk pengembangan smelter nikel dan tembaga sebagai bagian dari penguatan rantai pasok mineral nasional.
Eddy menegaskan kebijakan hilirisasi perlu terus didorong hingga tahap industrialisasi produk turunan dan barang jadi agar manfaat ekonominya optimal. Dengan memproses mineral di dalam negeri, nilai tambah tidak lagi menguap dalam bentuk ekspor bahan mentah.

