Tata Kelola Investasi dan Hilirisasi Kunci Keluar dari 'Middle Income Trap'
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Hilirisasi BUMN tambang lewat MIND ID menjadi mesin pencipta nilai baru ketika komoditas mentah diolah menjadi aset industri bernilai tinggi melalui smelter bauksit, nikel, dan tembaga serta integrasi rantai pasok, strategi yang dinilai mampu memperkuat margin, daya saing, dan valuasi jangka panjang sektor pertambangan nasional.
Ombudsman Republik Indonesia menegaskan penguatan tata kelola investasi dan hilirisasi menjadi prasyarat penting agar Indonesia keluar dari jebakan pendapatan menengah (middle income trap). Penegasan itu disampaikan dalam pemaparan Laporan Hasil Kajian Sistemik Ombudsman RI Tahun 2025 yang menyoroti peran transformasi industri berbasis nilai tambah.
Anggota Ombudsman Hery Susanto menyatakan peluang Indonesia menjadi kekuatan ekonomi besar masih terbuka, tetapi transformasi berisiko timpang tanpa perbaikan tata kelola, kualitas pelayanan publik, dan kesinambungan kebijakan.
"Berdasarkan proyeksi, Indonesia diperkirakan baru keluar dari middle income trap pada rentang 2036 hingga 2038. Rentang ini berpotensi semakin mundur apabila pertumbuhan ekonomi tidak diiringi dengan tata kelola investasi dan hilirisasi yang inklusif, berkeadilan, dan berkelanjutan," ujar Hery di Jakarta dikutip Selasa (17/2/2026).
Baca Juga
Kajian tersebut mencatat Indonesia masih berada pada kategori negara berpendapatan menengah atas dengan gross national income per kapita sekitar US$ 4.800-5.100 pada periode 2023-2024, sehingga transformasi berbasis nilai tambah industri menjadi kunci untuk mempercepat lompatan ekonomi.
Ombudsman menilai kebijakan investasi dan hilirisasi perlu dijalankan secara inklusif dengan dukungan koordinasi lintas sektor, pemerataan infrastruktur, afirmasi bagi investor domestik, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) lokal agar dampak ekonomi dirasakan lebih luas.
Wakil Ketua Ombudsman Bobby Hamzar Rafinus menegaskan lembaganya terus mengawasi agar kebijakan investasi dan hilirisasi tidak hanya mendorong pertumbuhan, tetapi menjamin kualitas pelayanan publik dan keadilan sosial.
Hilirisasi yang dijalankan Mining Industry Indonesia (MIND ID) berfokus pada penciptaan nilai tambah mineral melalui pengolahan lanjutan, manufaktur, dan integrasi rantai pasok industri sehingga komoditas tidak lagi berhenti sebagai bahan mentah, melainkan menjadi produk industri bernilai tinggi.
Melalui entitas PT Aneka Tambang Tbk, nikel diolah menjadi feronikel, nickel matte, hingga bahan baku baterai kendaraan listrik. Sementara tembaga diproses melalui smelter menjadi katoda sebagai bahan baku kabel, elektronik, dan manufaktur. Proyek smelter milik PT Freeport Indonesia memperkuat rantai nilai tersebut di dalam negeri.
Baca Juga
Transformasi Tambang, Hilirisasi Angkat Daya Saing Industri Nasional
Bauksit juga tidak lagi diekspor dalam bentuk mentah, tetapi diolah menjadi alumina dan aluminium untuk kebutuhan konstruksi, otomotif, dan energi melalui PT Indonesia Asahan Aluminium. Hilirisasi timah oleh PT Timah Tbk diarahkan ke produk bernilai tinggi seperti solder, bahan kimia timah, dan komponen elektronik.
Pengolahan emas menghasilkan bullion yang mendukung cadangan nasional dan memperkuat ekosistem industri keuangan berbasis emas. Transformasi tersebut dipandang sebagai cerita penciptaan nilai karena berdampak pada margin industri, daya saing global, serta potensi peningkatan valuasi jangka panjang BUMN tambang.

