Perak Tembus Rekor Tertinggi, Emas Kian Atraktif di Tengah Isu Penurunan Suku Bunga
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Harga perak mencetak rekor tertinggi baru pada perdagangan Rabu (17/12/2025), sementara harga emas turut naik di tengah kembali menguatnya ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh bank sentral Amerika Serikat, The Fed dan meningkatnya ketegangan geopolitik global yang mendorong permintaan aset lindung nilai.
Harga perak naik sekitar 4% menjadi US$ 66,3 per ons, setelah sebelumnya sempat menyentuh level tertinggi sepanjang masa di US$ 66,51 dalam sesi perdagangan. Penguatan tajam tersebut memperpanjang reli harga perak yang telah berlangsung sepanjang tahun ini.
Sedangkan harga emas naik 0,7% menjadi US$ 4.332,21 per ons pada pukul 12.10 siang waktu AS, setelah sebelumnya menguat lebih dari 1% di awal perdagangan. Sementara itu, kontrak berjangka emas Amerika Serikat turut menguat 0,7% ke level US$ 4.364 per ons.
Baca Juga
Analis Marex Edward Meir mengatakan lonjakan perak turut menyeret harga emas ke level yang lebih tinggi. “Perak menarik harga emas, ada sejumlah uang yang berpindah dari emas ke perak, platinum, dan paladium,” ujar Meir dilansir CNBC.
Ia menilai level US$ 70 per ons menjadi target jangka pendek berikutnya bagi perak. “Harga US$ 70 per ons (untuk perak) tampaknya menjadi target logis berikutnya dalam jangka pendek,” kata dia.
Sepanjang tahun ini, harga perak mencatatkan lonjakan 126%, jauh melampaui kinerja emas yang naik sekitar 65%. Kinerja tersebut mencerminkan pergeseran minat investor ke logam mulia non-yielding di tengah perubahan ekspektasi kebijakan moneter global.
Data pasar tenaga kerja Amerika Serikat yang dirilis Selasa (16/12/2025) turut memperkuat sentimen tersebut. Jumlah lapangan kerja tercatat bertambah 64.000 pada bulan lalu, lebih kuat dari perkiraan pasar. Namun tingkat pengangguran justru naik menjadi 4,6%, level tertinggi sejak September 2021.
Melemahnya kondisi pasar tenaga kerja dinilai membuka peluang lebih besar bagi pemangkasan suku bunga acuan. Lingkungan suku bunga yang lebih rendah umumnya menguntungkan aset yang tidak memberikan imbal hasil, seperti emas dan perak.
CEO dan manajer aset DHF Capital SA Bas Kooijman mengatakan pasar kini semakin yakin akan pelonggaran kebijakan moneter oleh Federal Reserve. “Pasar terus memperkirakan Federal Reserve akan memangkas suku bunga dua kali selama paruh pertama tahun 2026, yang dapat terus mendukung harga emas selama periode tersebut,” ujarnya.
Federal Reserve pekan lalu memangkas suku bunga acuan sebesar seperempat poin untuk ketiga kalinya sekaligus yang terakhir pada tahun ini. Investor saat ini memperkirakan akan ada dua pemangkasan suku bunga lanjutan masing-masing sebesar 25 basis poin sepanjang 2026.
Pelaku pasar kini menantikan rilis Indeks Harga Konsumen November pada Kamis (18/12/2025) serta data Pengeluaran Konsumsi Pribadi pada Jumat (19/12/2025) untuk mendapatkan petunjuk lebih lanjut terkait arah inflasi dan kebijakan moneter.
Baca Juga
Di sisi geopolitik, sentimen safe haven turut diperkuat oleh meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Venezuela. Presiden Amerika Serikat Donald Trump memerintahkan “blokade” terhadap seluruh kapal tanker minyak yang dikenai sanksi masuk dan keluar Venezuela sebagai upaya meningkatkan tekanan terhadap pemerintahan Presiden Nicolas Maduro.
Selain emas dan perak, logam mulia lainnya mencatatkan penguatan. Harga platinum naik 2,5% menjadi US$ 1.896,90 per ons, level tertinggi dalam lebih dari 17 tahun. Palladium juga menguat hampir 2,5% menjadi US$ 1.643,79 per ons, sekaligus menyentuh level tertinggi sejak Februari 2023.

