Rosan: Danantara Akan Membangun Empat Proyek Senilai Rp 202,4 Triliun Tahun 2026
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara merencanakan pembangunan empat proyek besar pada 2026 dengan total nilai mencapai Rp 202,4 triliun. Salah satu proyek unggulan adalah proyek “Wamena”, yakni pengembangan fasilitas waste to energy (WTE) atau pengolahan sampah menjadi energi di 33 kota di Indonesia dengan nilai investasi Rp 84 triliun.
Investasi Danantara menjadi bagian penting dari strategi pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi hingga 8% pada 2029. “Tahun ini, kebutuhan investasi mencapai Rp 2.175,2 triliun atau meningkat 6,3% dari tahun 2025,” kata Rosan Perkasa Roeslani, Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM sekaligus CEO Danantara, dalam acara Indonesia Economic Outlook (IEO) di Auditorium Wisma Danantara, Jumat (13/02/2026).
Acara yang diinisiasi Kementerian Koordinator Perekonomian tersebut dihadiri Presiden Prabowo Subianto serta enam panelis utama, yakni Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, Menko Pangan Zulkifli Hasan, Menteri Pertanian Amran Sulaiman, dan Kepala Badan Gizi Nasional Dadan Hindayana.
Mengacu pada arahan Kementerian PPN/Bappenas, Rosan menjelaskan bahwa Kementerian Investasi dan Hilirisasi mendapat target peningkatan investasi agar pertumbuhan ekonomi 8% pada 2029 dapat tercapai. Dalam konteks itu, Danantara akan berperan aktif menggalang investasi guna mendorong pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja.
Baca Juga
Danantara Sebut 'Merger' BUMN Tak Rugikan Karyawan, Justru Bisa Genjot Kapitalisasi Pasar
Selain proyek Wamena, tiga proyek lain yang akan direalisasikan tahun ini adalah proyek Cordova, yakni pengembangan fasilitas caustic soda untuk mendukung hilirisasi senilai Rp 13,4 triliun; proyek Fukuoka berupa pengembangan data center (DC) platform bersama operator global senilai Rp 121 triliun; serta proyek Johor di bidang agrikultur senilai Rp 84 triliun. Keempat proyek tersebut dinilai memiliki multiplier effect tinggi. “Multiplier effect proyek Wamena mencapai sepuluh kali,” ujar Rosan.
Untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi 8% pada 2029, kebutuhan investasi PMA dan PMDN selama periode 2025–2029 diperkirakan mencapai Rp 13.032,8 triliun atau tumbuh rata-rata 15,67% per tahun. Pada 2026 saja, kebutuhan investasi sebesar Rp 2.175,2 triliun atau meningkat 6,3% dibandingkan tahun sebelumnya.
Sebagai perbandingan, kebutuhan investasi selama 10 tahun periode 2014–2024 mencapai Rp 9.117,4 triliun. Artinya, kebutuhan investasi lima tahun ke depan jauh lebih besar meski dalam rentang waktu yang lebih pendek. Lima negara penyumbang PMA terbesar adalah Singapura (US$17,4 miliar), Malaysia (US$10,6 miliar), Amerika Serikat (US$4,5 miliar), dan China (US$3,1 miliar).
Realisasi investasi pada 2025 mencapai Rp 1.931,2 triliun, naik 12,7% dan setara 101,3% dari target yang ditetapkan. Investasi tersebut menyerap sekitar 2,7 juta tenaga kerja. Komposisinya terdiri atas PMA 46,65% dan PMDN 53,35%. Sebanyak 48,67% investasi masih terkonsentrasi di Pulau Jawa, dengan Jawa Barat dan DKI Jakarta masing-masing menyerap 15,4% dan 14%.
Baca Juga
Danantara Bidik Proyek 'Waste to Energy' Terintegrasi Permukiman
Pada 2025, realisasi investasi di sektor hilirisasi mencapai Rp 584,1 triliun atau meningkat 43,35%, menyumbang sekitar 30,2% dari total investasi nasional. Investasi hilirisasi terbesar berasal dari sektor mineral sebesar Rp 373,1 triliun, dengan nikel sebagai kontributor terbesar senilai Rp 185,2 triliun.
Hilirisasi tidak hanya menyasar sektor mineral, tetapi juga perkebunan dan kehutanan, minyak dan gas bumi, serta perikanan dan kelautan. Sekitar 73,5% investasi hilirisasi berasal dari PMA dengan lima negara terbesar yakni Singapura, Hong Kong, Tiongkok, Malaysia, dan Amerika Serikat.
Dari total rencana 20 proyek hilirisasi, enam proyek telah melakukan groundbreaking pada 6 Februari 2026 dengan total nilai sekitar US$7 miliar. Di antaranya pembangunan smelter alumina menjadi aluminium dan pengolahan bauksit menjadi smelter-grade alumina di Mempawah, Kalimantan Barat.
Selain itu, terdapat proyek bioavtur dari UCO di Cilacap, Jawa Tengah; proyek bioetanol di Banyuwangi, Jawa Timur; pengelolaan garam di Gresik, Jawa Timur; serta bisnis ayam terintegrasi di berbagai wilayah untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Sebanyak 14 proyek tahap kedua meliputi hilirisasi batubara menjadi dimethyl ether (DME), produksi copper rod, pengolahan aspal Buton, produksi besi baja dari pasir besi, pengembangan kilang minyak, pengolahan rumput laut, serta pengembangan produk turunan sawit dan kelapa. Total nilai investasi 20 proyek hilirisasi tersebut mencapai US$26 miliar dengan potensi penyerapan tenaga kerja sekitar 600.000 orang.
Baca Juga
Prabowo Panggil Airlangga hingga Rosan ke Hambalang, Bahas Negosiasi Tarif Dagang dengan AS
Proyek hilirisasi tahap kedua direncanakan mulai pertengahan Maret setelah seluruh aspek seperti pembelian lahan, kesiapan infrastruktur, dan fasilitas pendukung dinyatakan siap oleh Menko Perekonomian. Selanjutnya, proyek akan ditenderkan secara terbuka.
Ke depan, pemerintah juga menyiapkan tambahan sekitar 24 proyek baru. Seluruh proyek diarahkan untuk memaksimalkan nilai tambah di dalam negeri, meningkatkan produktivitas, serta dijalankan dengan prinsip good governance: transparansi, akuntabilitas, dan independensi.
Program Waste to Energy
Terkait program WTE, Indonesia menghasilkan sekitar 60 juta ton sampah per tahun dan sekitar 87% belum terkelola secara optimal. Batch pertama program ini telah dimulai sejak November 2025, dan pemenangnya akan diumumkan pada akhir Februari 2026.
Batch kedua direncanakan dimulai pada Maret setelah mendapatkan persetujuan dan klarifikasi dari kementerian koordinator terkait, termasuk kesiapan kota, infrastruktur, serta ketersediaan pasokan sampah.
Konsep WTE yang dikembangkan mencontoh praktik di China, Thailand, dan sejumlah negara lain, di mana fasilitas pengolahan sampah tidak menimbulkan bau dan dapat terintegrasi dengan ruang publik seperti taman dan fasilitas masyarakat. Program ini tidak hanya berfokus pada pembangkitan listrik, tetapi juga pada dampak kesehatan dan lingkungan secara lebih luas. Aspek environmental health menjadi elemen penting dalam justifikasi program tersebut.
Proyek Kampung Haji
Untuk proyek Kampung Haji, lokasi yang telah disiapkan berjarak sekitar 2,9 kilometer dari Masjidil Haram. Sebagai perbandingan, rata-rata jarak akomodasi jamaah haji Indonesia selama ini berkisar 4,5–6 kilometer. Bahkan tersedia lahan berjarak sekitar 600 meter dari Masjidil Haram untuk tahap pengembangan berikutnya. Proyek ini telah ditandatangani pada 14 September 2025 dan akan dikembangkan secara bertahap.
Selain proyek-proyek tersebut, Danantara juga melakukan investasi di Australia yang berkaitan dengan pengolahan perikanan (fish processing) dan sektor lainnya. Tahun ini juga terdapat proyek di bidang caustic soda, data center, kerja sama global, serta berbagai investasi strategis lain.
Dalam membangun kepercayaan investor global, Danantara melalui skema discretionary investment management (DIM) berhasil memperoleh pendanaan dari institusi internasional. Pada November 2025, DIM menandatangani perjanjian fasilitas kredit bergulir (revolving credit facility) senilai US$10 miliar sebagai pendanaan jangka panjang luar negeri.
Danantara juga menjalin kemitraan dengan sejumlah sovereign wealth fund (SWF) negara lain, antara lain China Investment Corporation dan Japan Bank for International Corporation (JBIC) masing-masing senilai US$1 miliar, Qatar Investment Authority sebesar US$4 miliar, serta Russian Direct Investment Fund senilai US$2 miliar.
Danantara Asset Management bahkan memperoleh peringkat BBB dengan outlook stabil dari Fitch Ratings untuk pinjaman jangka panjang dalam mata uang asing. “Ini sama dengan rating negara Indonesia. Peringkat DIM Danantara disetarakan dengan peringkat kredit pemerintah Indonesia,” kata Rosan.

