Elnusa (ELSA) Andalkan Teknologi dan Efisiensi Hadapi Volatilitas Harga Minyak dan Transisi Energi
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Ketidakpastian ekonomi global yang ditandai fluktuasi harga minyak serta arah transisi energi menuju sumber energi baru terbarukan (EBT) menjadi tantangan serius bagi industri jasa hulu migas.
PT Elnusa Tbk (ELSA), anak usaha PT Pertamina Hulu Energi (PHE) sebagai subholding upstream Pertamina (Persero) menyiapkan langkah strategis dengan menitikberatkan pada efisiensi operasional dan pemanfaatan teknologi untuk menjaga keberlanjutan bisnis.
Direktur Utama Elnusa Litta Indriya Ariesca menyampaikan bahwa volatilitas tidak hanya terjadi pada komoditas energi, tetapi hampir di seluruh sektor. Maka dari itu, hal ini perlu menjadi perhatian serius.
“Mungkin tidak hanya minyak yang fluktuatif, segala hal sekarang tidak menentu. Oleh karena itu memang kita harus siap dan sigap. Efisiensi di segala lini. Kemudian, kita juga meminta teman-teman untuk bekerja lebih efektif. Jadi, merencanakan dengan baik, kemudian, memang apa yang diperlukan, kita dapat support,” kata Litta dalam wawancara dengan Investortrust di Jakarta, Senin (9/2/2026).
Baca Juga
Litta tidak memungkiri bahwa kondisi sekarang sedang tidak baik-baik saja. Menurutnya, ini perlu dijadikan pertimbangan untuk masa depan, terutama terkait fokus yang direncanakan pemerintah maupun Pertamina.
Fluktuasi harga minyak, menurut Litta, berdampak langsung terhadap keputusan klien dalam menjalankan proyek hulu migas, termasuk potensi penundaan investasi.
Biaya Produksi Minyak
Dia menjelaskan bahwa tantangan industri semakin besar karena struktur biaya produksi minyak di Indonesia relatif tinggi, seiring kondisi lapangan migas yang telah memasuki fase mature serta pengembangan sumber daya non-konvensional yang membutuhkan biaya besar.
“Jadi begini, harga produksi minyak di Indonesia itu juga sudah cukup tinggi. Biaya produksi minyak cukup tinggi karena lapangan kita sudah mature, dan juga untuk memproduksi tadi unconventional itu juga biayanya tinggi sekali,” jelas Litta.
Litta memaparkan, secara rata-rata harga produksi minyak di Indonesia mencapai sekitar US$ 25 per barel. Bahkan yang berada di offshore (lepas pantai) kemungkinan bisa lebih tinggi lagi sampai hampir US$ 50 per barel. Tekanan semakin terasa ketika harga minyak global berada di bawah biaya produksi, sehingga efisiensi menjadi kunci utama keberlanjutan operasi.
“Makanya kalau harga minyak fluktuatif bisa sampai di bawah harga produksi itu kan sangat berat. Makanya yang pertama harus efisiensi dahulu. Di luar dari itu, kita harus menemukan teknologi tepat guna, bagaimana teknologi tersebut bisa membantu menekan biaya produksi,” ungkapnya.
Baca Juga
Kinerja Elnusa (ELSA) 2025 Positif, Ekspansi dan Inovasi Teknologi Jadi Motor Pertumbuhan
Litta menekankan bahwa pemanfaatan teknologi berpresisi tinggi mampu meningkatkan tingkat keberhasilan produksi meskipun membutuhkan investasi awal yang lebih besar.
“Karena kalau kita lihat misalnya produksi konvensional, walaupun harga investasinya lebih murah, tetapi tingkat keberhasilannya juga kecil. Namun, apabila kita membayar sedikit lebih mahal untuk teknologi, tetapi tingkat keberhasilannya jauh lebih besar, itu akan lebih menguntungkan. Jadi banyak hal yang perlu kita lihat, baik itu teknologi, efisiensi, maupun lingkup lainnya,” ujar Litta.
Melalui strategi efisiensi menyeluruh dan penguatan teknologi, Elnusa optimistis dapat menjaga kinerja bisnis di tengah volatilitas global sekaligus mendukung keberlanjutan sektor energi nasional.

