Akses Informasi Pasar Jadi Kunci UMKM Naik Kelas, Bos Wismilak Yakin ION Mampu Beri Solusi
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Pembaruan informasi pasar dan akses terhadap informasi pasar menjadi isu yang sangat fundamental bagi UMKM, bahkan bagi seluruh pelaku usaha tanpa terkecuali, termasuk kolaborator besar. Tanpa pemahaman yang memadai mengenai pasar, pelaku usaha akan sulit menemukan peluang untuk belajar, tumbuh, dan menciptakan dampak ekonomi yang berkelanjutan.
Hal tersebut disampaikan oleh Ronald Walla, Head of MSME Apindo sekaligus Presiden Direktur PT Wismilak Inti Makmur Tbk, dalam acara Indonesia Open Network (ION) 2026 yang digelar di Jakarta, Kamis (5/2/2026).
Ronald menilai, diskursus mengenai UMKM selama ini terlalu banyak berfokus pada pendanaan, padahal fondasi utama keberhasilan usaha terletak pada pemahaman yang jelas tentang apa yang ingin dilakukan, apa yang ingin diproduksi, serta ke mana arah bisnis akan dikembangkan.
Menurut Ronald, akses informasi pasar bukan hanya kebutuhan UMKM, tetapi juga menjadi isu utama bagi seluruh pelaku ekonomi. Dari informasi pasar yang terbuka dan mutakhir, pelaku usaha dapat mengenali peluang, menentukan strategi, serta membangun ekosistem untuk tumbuh bersama. Setelah arah usaha dipahami, barulah penguatan kapasitas dan kapabilitas menjadi relevan, disesuaikan dengan produk dan pasar yang dituju.
Ia menambahkan bahwa pendanaan tetap memiliki peran penting, terutama dalam menekan risiko kegagalan usaha. Namun, tanpa ekosistem yang mendukung dan informasi yang memadai, pendanaan semata tidak cukup. “Berbisnis pada dasarnya memang mengandung risiko, mulai dari risiko manajemen hingga risiko pasar,” ujarnya.
Dalam konteks inilah, Ronald menegaskan keyakinannya terhadap peran Indonesia Open Network. “Kami meyakini bahwa Indonesia Open Network (ION) mampu menjawab berbagai persoalan tersebut,” kata Ronald. Ia menilai ION hadir sebagai inisiatif sistem terbuka yang memungkinkan kolaborasi lintas inisiatif, sekaligus membuka akses informasi pasar yang lebih luas dan adil.
Baca Juga
Dubes India untuk RI: Indonesia Open Network Jadi 'Game Changer' Menuju Pertumbuhan 8%
Ronald juga menyinggung pengalaman Indonesia saat menjadi tuan rumah G20 di Bali pada 2022, di mana nilai-nilai seperti ekosistem, inklusivitas, kolaborasi, kebersamaan, solidaritas, dan gotong royong terus digaungkan. Semangat tersebut, menurutnya, tercermin dalam pengembangan jaringan terbuka seperti ION yang memungkinkan pelaku usaha dari berbagai skala untuk terhubung dan berkolaborasi.
Lebih jauh, Ronald menyoroti pentingnya kerangka pentahelix dalam pengembangan UMKM nasional. Dengan sekitar 64–65 juta UMKM yang berkontribusi besar terhadap PDB dan penyerapan tenaga kerja, kolaborasi antara pemerintah, akademisi, sektor swasta, asosiasi, dan media menjadi keharusan. Namun, tantangan utama yang masih dihadapi UMKM Indonesia adalah kolaborasi itu sendiri.
“Persoalan utama kepemimpinan UMKM di Indonesia adalah kolaborasi,” ujarnya, merujuk pula pada pandangan Menteri UMKM Maman Abdurrahman. Kolaborasi, lanjut Ronald, hanya dapat terwujud jika dilandasi oleh kepercayaan. Di sinilah peran data menjadi krusial.
Sistem yang disediakan oleh Indonesia Open Network, lanjut Ronald, dinilai berpotensi menghadirkan data yang tepercaya. Data tersebut tidak hanya bermanfaat bagi UMKM dalam mengakses pembiayaan, tetapi juga penting bagi perumusan kebijakan publik dan penyelesaian persoalan mendasar UMKM, mulai dari biaya produksi, pemasaran, hingga isu energi dan bahan baku.
Dengan dukungan analitik data yang kuat, Ronald optimistis berbagai program berbasis dampak dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) dapat dipercepat. Ia melihat ION sebagai solusi win-win yang memungkinkan pertukaran data secara otomatis, memperluas keterlibatan pemangku kepentingan dalam skema pentahelix, serta memperkuat fondasi kolaborasi UMKM di Indonesia.

