Bagikan

Dubes India untuk RI: Indonesia Open Network Jadi 'Game Changer' Menuju Pertumbuhan 8%

Poin Penting

Indonesia butuh terobosan untuk lompat dari pertumbuhan 5% menuju 8% dan keluar dari jebakan pendapatan menengah.
ION dinilai mampu membuka pasar UMKM secara inklusif melalui jaringan digital terbuka.
ION menjadi wujud nyata kolaborasi India–Indonesia dalam membangun infrastruktur digital publik.

JAKARTA, Investortrust.id - Indonesia berada di titik kritis dalam perjalanan ekonominya. Setelah bertahun-tahun mencatat pertumbuhan stabil di kisaran 5%, tantangan ke depan menuntut lompatan yang lebih besar menuju pertumbuhan 8% agar Indonesia mampu keluar dari jebakan pendapatan menengah.

Untuk mencapai target tersebut, dibutuhkan tuas pengungkit dan terobosan struktural yang mampu mendorong produktivitas, memperluas pasar, serta memastikan pertumbuhan yang inklusif. Dalam konteks inilah, Indonesia Open Network (ION) diyakini dapat menjadi salah satu game changer bagi perekonomian nasional.

“Kita berada di titik kritis, di mana Indonesia harus bergerak dari pertumbuhan tradisional sekitar 5% menuju 8%. Kita membutuhkan tuas pengungkit, dan secara pribadi saya percaya bahwa ION bisa menjadi salah satu pengubah permainan bagi Indonesia,” kata Duta Besar India untuk Indonesia, Sandeep Chakravorty, dalam acara Indonesia Open Network (ION) 2026 di Jakarta.

Ia pun menegaskan bahwa tanpa pasar yang terbuka dan luas, pelaku usaha khususnya usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), tidak akan mampu menciptakan kekayaan maupun surplus ekonomi.

“Tanpa adanya pasar, dan jika Anda hanya berjualan di lingkungan sendiri, maka Anda tidak akan pernah menciptakan kekayaan. Anda tidak akan mampu menciptakan surplus tambahan,” ujarnya.

Duta Besar India untuk Indonesia, Sandeep Chakravorty, dalam acara Indonesia Open Network (ION) 2026 di Jakarta. Foto: investortrust/Mohammad Defrizal

Menurut Sandeep, inilah persoalan mendasar yang masih dihadapi UMKM Indonesia, terutama mereka yang beroperasi di daerah-daerah terpencil. Meski mampu memproduksi barang dan jasa, banyak UMKM belum terhubung dengan pasar yang memadai. Ia menilai, apa yang telah dilakukan Open Network for Digital Commerce (ONDC) di India dan yang kini diupayakan melalui ION di Indonesia merupakan jawaban atas kebutuhan tersebut. ION membuka akses pasar yang lebih luas, tidak terkungkung dalam ekosistem platform tertutup, dan memungkinkan pelaku usaha bertemu langsung dengan konsumen.

Baca Juga

Menuju Ekosistem Digital Inklusif, Indonesia Belajar dari Pengalaman ONDC India

Lebih jauh, Sandeep menempatkan ION dalam konteks global dan bilateral. Di berbagai forum internasional seperti G20, BRICS, hingga Perserikatan Bangsa-Bangsa, gagasan tentang jaringan terbuka atau open networks terus menguat. Ia menyebut momen peluncuran dan penguatan ION sebagai peristiwa bersejarah, bukan hanya bagi hubungan India–Indonesia, tetapi juga bagi arah masa depan ekonomi Indonesia.

Di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI) yang memunculkan kekhawatiran akan eksklusi sosial dan ekonomi, Sandeep menilai kehadiran jaringan digital yang inklusif justru menjadi penyeimbang narasi tersebut. Menurutnya, konsep jaringan terbuka memberikan rasa aman bahwa transformasi digital tidak hanya menguntungkan segelintir pihak, tetapi juga dirancang untuk melibatkan sebanyak mungkin pelaku ekonomi. “Ketika narasi kekhawatiran terhadap AI menguat, narasi tentang jaringan yang inklusif membuat orang merasa bahwa ada pihak yang memikirkan kepentingan mereka,” ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Sandeep juga menyoroti kuatnya dukungan pemerintah Indonesia terhadap inisiatif ini, yang tercermin dari kehadiran Menteri UMKM, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, serta peran aktif dunia usaha melalui APINDO. Dukungan lintas pemangku kepentingan ini dinilai menjadi fondasi penting agar ION tidak berhenti sebagai gagasan, tetapi benar-benar menjadi platform yang hidup dan berdampak.

ION, lanjut Sandeep, merupakan wujud konkret dari visi bersama para pemimpin Indonesia dan India. Dalam pernyataan bersama Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Narendra Modi saat kunjungan kenegaraan Januari lalu, kedua negara menegaskan komitmen untuk memperkuat kolaborasi di bidang infrastruktur publik digital, kemitraan digital B2B, pengembangan kapasitas digital, dan keamanan siber demi pertumbuhan yang inklusif. “ION adalah terjemahan nyata dari niat kebijakan menjadi hasil ekonomi yang riil bagi UMKM dan masyarakat,” tegasnya.

Baca Juga

Apindo: Indonesia Open Network (ION) Jadi Pengungkit Baru Kinerja UMKM Nasional

Ia menekankan bahwa kerja sama ini tidak semata antarpemerintah, melainkan menyentuh level aktivitas ekonomi sehari-hari. ION dibangun sebagai konstruksi people-to-people, di mana teknologi berperan meruntuhkan sekat-sekat yang selama ini membatasi interaksi antara penjual dan pembeli. Melalui arsitektur terbuka, pelaku usaha dapat ditemukan oleh konsumen tanpa harus terjebak dalam platform tertutup dengan dinding yang sulit ditembus.

Duta Besar India untuk Indonesia, Sandeep Chakravorty, dalam acara Indonesia Open Network (ION) 2026 di Jakarta. Foto: investortrust/Mohammad Defrizal

Pengalaman India dalam mendorong Digital Public Infrastructure (DPI) secara global juga menjadi referensi penting. Meski sempat menghadapi resistensi, India dan Indonesia akhirnya berhasil mendorong pengakuan terhadap DPI dalam Deklarasi Pemimpin G20 New Delhi 2023, yang menegaskan bahwa DPI global harus dibangun di atas standar terbuka dan spesifikasi interoperabel. Prinsip tersebut kembali ditegaskan dalam Deklarasi Rio 2024, yang menyebut peran teknologi digital dalam mengurangi ketimpangan dan mendorong transformasi digital yang berkeadilan.

Indonesia sendiri, kata Sandeep, setelah bergabung dengan BRICS, turut mengakui model DPI India sebagai katalis bagi inklusi keuangan, tata kelola yang baik, dan inovasi digital, sekaligus sebagai penangkal praktik monopoli. Melalui ION, prinsip-prinsip tersebut kini diadopsi dan disesuaikan dengan struktur pasar, institusi, dan prioritas nasional Indonesia.

Sandeep juga menepis anggapan bahwa UMKM hanya menjadi ciri negara berkembang. Ia mencontohkan Jerman, di mana 99% bisnis merupakan UMKM, menyerap 53% tenaga kerja, menyumbang sekitar 55% PDB, dan berkontribusi lebih dari 20% terhadap ekspor nasional. Fakta bahwa negara maju seperti Jerman sangat bergantung pada UMKM menunjukkan betapa strategisnya peran sektor ini dalam perekonomian. Karena itu, menurutnya, negara berkembang seperti Indonesia dan India justru harus melakukan segala upaya untuk memperkuat UMKM.

Ia optimistis, dengan bergabungnya UMKM ke dalam ION, Indonesia akan menyaksikan dinamika ekonomi yang jauh lebih hidup dan memiliki peluang nyata untuk melompat dari pertumbuhan 5% menuju 8%. Lebih dari itu, Indonesia dan India tidak lagi sekadar menjadi konsumen teknologi digital, melainkan pencipta bersama infrastruktur digital terbuka bagi negara-negara Global South.

“India mungkin yang pertama meluncurkan arsitektur terbuka untuk perdagangan digital, tetapi saya yakin ION akan menjadi adopter tercepat,” ujarnya. Dengan kecepatan onboarding pembeli dan penjual, ION diharapkan mampu menyediakan alternatif yang sehat bagi platform-platform digital yang saat ini mendominasi perdagangan daring.

The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024