Menuju Ekosistem Digital Inklusif, Indonesia Belajar dari Pengalaman ONDC India
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Pengembangan infrastruktur digital terbuka dinilai menjadi kunci membentuk pasar yang inklusif, kompetitif, dan berkelanjutan. Pengalaman India dalam membangun Digital Public Infrastructure (DPI) dapat menjadi referensi penting bagi Indonesia dalam mengembangkan Indonesia Open Network (ION).
Managing Director & CEO Protean Suresh Sethi mengatakan bahwa infrastruktur digital bukan sekadar fondasi teknologi, melainkan instrumen strategis yang menentukan arah evolusi pasar dan tingkat partisipasi ekonomi nasional.
“Kami percaya infrastruktur digital memiliki peran penting dalam membentuk bagaimana pasar berkembang, bagaimana inklusi dapat dicapai dalam skala nasional, serta bagaimana persaingan usaha dapat dijaga tetap sehat,” ujar Sethi dalam acara Indonesia Open Network 2026 di Jakarta, Kamis (5/2/2026).
Baca Juga
India–Indonesia Punya Kesamaan, Sistem Digital Harus Inklusif dan Terbuka
Dia menjelaskan, dalam satu dekade terakhir India berhasil membangun dan menerapkan infrastruktur digital berskala populasi dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Proses yang umumnya memakan waktu bertahun-tahun, mampu dilembagakan dalam periode yang jauh lebih singkat.
“Percepatan ini bukan terjadi secara kebetulan, melainkan hasil dari pilihan yang disengaja, baik dari sisi arsitektur sistem, tata kelola, maupun kolaborasi erat antara sektor publik dan swasta,” jelasnya.
Menurut Sethi, inti keberhasilan tersebut terletak pada pengembangan lapisan Digital Public Infrastructure (DPI) yang bersifat interoperabel. DPI memungkinkan standardisasi akses dan menjamin netralitas, sehingga berbagai aplikasi, model bisnis, dan layanan dapat bersaing secara terbuka di atas satu rel digital yang sama.
“Struktur ini memungkinkan skala dan stabilitas di lapisan dasar, sekaligus menjaga kompetisi dan kreativitas di lapisan terluar,” katanya.
Salah satu implementasi paling ambisius dari pendekatan tersebut adalah Open Network for Digital Commerce (ONDC). Protean, kata Sethi, berkesempatan terlibat langsung dalam pengembangan rel digital inti ONDC. Namun, dia menegaskan bahwa ONDC tidak dimaksudkan sebagai model yang harus direplikasi secara mentah oleh negara lain.
“Kami ingin berbagi perjalanan ONDC sebagai kumpulan pembelajaran nyata, apa yang berhasil, apa yang lebih sulit dari perkiraan, dan apa yang akan kami rancang berbeda jika memulai kembali,” ujar Sethi.
Pembelajaran tersebut dinilai relevan bagi Indonesia dalam membangun ION, dengan tetap menyesuaikan pada karakter ekonomi, kondisi geografis, serta prioritas nasional Indonesia.
Sethi memaparkan, pada 2020 India menjadi salah satu ekonomi digital dengan pertumbuhan tercepat di dunia. Penetrasi ponsel pintar sudah luas, pembayaran digital berkembang pesat, dan pertumbuhan e-commerce melampaui 25% per tahun. Namun, di balik pertumbuhan tersebut terdapat ketimpangan struktural.
India memiliki lebih dari 60 juta usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang berkontribusi signifikan terhadap lapangan kerja dan produk domestik bruto (PDB). Sayangnya, sebagian besar UMKM belum terlibat secara bermakna dalam perdagangan digital.
“Permintaan online terkonsentrasi pada segelintir platform. Visibilitas produk dikendalikan, komisi penjual tinggi, serta data dan relasi konsumen terkunci di dalam platform. Dengan kata lain, pertumbuhan perdagangan digital tidak diiringi oleh pemerataan partisipasi ekonomi,” jelasnya.
Baca Juga
Kolaborasi Global Diperkuat, Pemerintah Kembangkan Sapa UMKM Bareng Indonesia Open Network
Sethi menilai, Indonesia memiliki banyak kesamaan dengan India. Indonesia telah menjadi salah satu pasar perdagangan digital paling dinamis di Asia Tenggara, didorong tidak hanya oleh konsumsi, tetapi juga oleh jutaan wirausaha yang membangun mata pencaharian melalui aktivitas perdagangan.
Selain itu, Indonesia juga telah membuktikan keberhasilan interoperabilitas berskala nasional, salah satunya melalui sistem pembayaran berbasis QR. Tantangan ke depan, menurut Sethi, adalah memastikan bahwa seiring pertumbuhan perdagangan digital, nilai dan daya tawar juga terdistribusi secara lebih merata.

