Proyek Baterai EV Rp 125,6 Triliun Jadi Jurus Hilirisasi Pemerintah
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Pemerintah mempercepat pengembangan proyek ekosistem baterai kendaraan listrik (electrical vehicle/EV) terintegrasi dari hulu ke hilir senilai US$ 7 hingga US$ 8 miliar atau setara Rp 109,9 triliun hingga Rp 125,6 triliun, sebagai strategi utama mendorong hilirisasi mineral dan memperkuat pertumbuhan ekonomi nasional. Proyek ini diproyeksikan menjadi fondasi penting dalam memperkuat posisi Indonesia di rantai pasok global industri kendaraan listrik.
Proyek tersebut merupakan kolaborasi antara Grup MIND ID, PT Industri Baterai Indonesia, dan konsorsium Huayou. Pemerintah menilai sinergi lintas pelaku industri ini akan meningkatkan daya saing industri nasional sekaligus memperkuat nilai tambah sumber daya mineral di dalam negeri.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan pemerintah terus mendorong pengembangan ekosistem rantai industri baterai kendaraan listrik secara terintegrasi. "Pengembangan mencakup seluruh tahapan industri, mulai pertambangan nikel, fasilitas pemurnian, hingga manufaktur baterai," kata dia dikutip, Senin (2/2/2026).
Bahlil menyebut rantai industri tersebut mencakup smelter dan fasilitas high pressure acid leaching, yaitu teknologi pengolahan nikel kadar rendah menggunakan tekanan dan suhu tinggi, dilanjutkan dengan produksi precursor dan katoda hingga manufaktur sel baterai kendaraan listrik.
Pemerintah melanjutkan pengembangan fasilitas baterai dari tahap awal berkapasitas 10 gigawatt yang telah beroperasi sejak 2023. Ke depan, kapasitas produksi direncanakan meningkat dengan tambahan 20 gigawatt untuk memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global industri baterai dan kendaraan listrik.
Baca Juga
Percepat Ekosistem Baterai Terintegrasi, Antam (ANTM), IBC, dan Huayou Teken Kesepakatan Strategis
“Kita ingin proyek ini memberikan nilai tambah maksimal bagi bangsa. Hilirisasi harus menjadi pengungkit pertumbuhan ekonomi nasional, sekaligus memperkuat industri strategis di dalam negeri,” ujar Bahlil.
Bahlil menjelaskan bahwa rantai industri ekosistem baterai kendaraan listrik memiliki dampak luas terhadap perekonomian nasional. Selain meningkatkan nilai tambah mineral, pengembangan industri ini dinilai mampu mendorong pertumbuhan ekonomi daerah serta memperkuat ketahanan energi nasional.
Ia menambahkan, Indonesia memiliki sumber bahan baku nikel yang kuat, yang akan dipasok oleh PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) atau Antam, perusahaan tambang milik negara, melalui kerja sama dengan konsorsium. Pemerintah juga menargetkan kepemilikan mayoritas proyek tetap berada di tangan negara dengan porsi di atas 50%, bahkan berada di kisaran 60% hingga 70%.
“Ini implementasi Pasal 33. Kekayaan alam harus dikelola negara dan diprioritaskan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat,” ujarnya.
Sementara itu, Direktur Utama Indonesia Battery Corporation Aditya Farhan Arif menyatakan kerja sama ini menjadi langkah strategis untuk mempercepat hilirisasi sekaligus membangun kemandirian teknologi baterai di dalam negeri. Ia menilai proyek ini memiliki peran penting dalam penguasaan teknologi industri strategis nasional.
Baca Juga
Ekosistem Baterai Terintegrasi Kunci Transisi Energi dan Ketahanan Listrik Nasional
“Sejak awal, misi utama IBC adalah menyukseskan proyek Dragon dan Titan. Kerja sama dengan Huayou ini merupakan kelanjutan dari proyek Titan, setelah sebelumnya bersama LG. Kami ingin memastikan bahwa hilirisasi ini benar-benar memberikan nilai tambah optimal bagi Indonesia,” kata Aditya.
Menurut Aditya, kolaborasi tersebut tidak hanya berorientasi pada pembangunan kapasitas produksi, tetapi juga diarahkan pada penguatan penguasaan teknologi serta peningkatan kompetensi sumber daya manusia nasional.
“Harapannya, partnership ini menjadi learning curve bagi Indonesia, sehingga ke depan kita tidak hanya menjual sumber daya, tetapi juga mampu memproduksi baterai dengan teknologi kita sendiri,” pungkasnya.

