Percepat Ekosistem Baterai Terintegrasi, Antam (ANTM), IBC, dan Huayou Teken Kesepakatan Strategis
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) atau Antam bersama PT Industri Baterai Indonesia atau Indonesia Battery Corporation (IBC) dan mitra global Zhejiang Huayou Cobalt Co Ltd memperkuat langkah pengembangan ekosistem baterai terintegrasi nasional melalui penandatanganan framework agreement (FA).
Kesepakatan ini menjadi landasan awal percepatan program hilirisasi nikel sekaligus realisasi investasi ekosistem baterai listrik terintegrasi di Indonesia.
Kolaborasi strategis tersebut turut melibatkan HYD Investment Limited, konsorsium Zhejiang Huayou Cobalt Co Ltd dan EVE Energy Co Ltd, serta PT Daaz Bara Lestari Tbk (DAAZ). Kerja sama ini diarahkan untuk membangun rantai pasok baterai dari hulu hingga hilir, mulai pengelolaan sumber daya nikel, proses pengolahan dan pemurnian, hingga produksi baterai.
Direktur Utama IBC Aditya Farhan Arif menyampaikan bahwa kemitraan ini menegaskan peran Indonesia untuk naik kelas dalam rantai nilai industri baterai global. Menurutnya, IBC dibentuk untuk memastikan Indonesia tidak hanya menjadi pemasok bahan baku, tetapi berkembang menjadi pusat industri baterai terintegrasi yang berdaya saing dan berkelanjutan.
Baca Juga
“Kolaborasi ini mencerminkan komitmen kuat seluruh pemangku kepentingan untuk membangun ekosistem industri bernilai tambah tinggi di dalam negeri,” ujar Aditya saat acara penandatanganan di Sekretariat Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (30/1/2026).
Dari sisi hulu, Antam menegaskan posisinya sebagai penyedia bahan baku strategis yang dikelola secara bertanggung jawab.
Direktur Utama Antam Untung Budiharto mengatakan, kerja sama dengan IBC dan mitra global sejalan mandat perusahaan dalam memperkuat hilirisasi mineral nasional.
“Melalui sinergi dengan IBC dan mitra global, seperti Huayou, kami berkomitmen mendukung pengembangan ekosistem baterai terintegrasi yang berkelanjutan, berdaya saing, dan sejalan kepentingan strategis nasional,” kata Untung.
Sementara itu, Chairman Zhejiang Huayou Cobalt Co Ltd Chen Xuehua menilai Indonesia memiliki posisi strategis dalam rantai pasok global industri baterai, baik dari sisi ketersediaan sumber daya maupun arah kebijakan industrialisasi. Huayou, kata dia, melihat Indonesia sebagai mitra jangka panjang dalam pengembangan industri baterai dunia.
“Melalui kerja sama ini, Huayou berkomitmen menghadirkan teknologi, pengalaman industri, serta praktik keberlanjutan global untuk mendukung pengembangan ekosistem baterai terintegrasi di Indonesia,” ujar Chen.
Sebagai entitas yang ditugaskan pemerintah mengembangkan industri baterai nasional, IBC berperan sebagai penghubung dan orkestrator sinergi antara industri domestik dan mitra global, termasuk dalam pengelolaan proyek, alih teknologi, dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia nasional.
Baca Juga
Pemerintah "Kunci" Proyek Baterai Raksasa US$ 6 Miliar, Antam (ANTM) Pegang Saham Mayoritas
Ekosistem baterai terintegrasi yang direncanakan akan dirinci lebih lanjut melalui studi kelayakan bersama, dengan potensi kapasitas produksi hingga 20 GWh dan estimasi nilai investasi mencapai US$ 5–6 miliar. Proyek ini diproyeksikan menyerap ribuan tenaga kerja, memperkuat struktur industri nasional, serta mendukung agenda transisi energi dan pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Penandatanganan framework agreement ini menjadi dasar penyusunan perjanjian definitif yang akan dieksekusi secara bertahap. Antam, IBC, dan Huayou menegaskan komitmen untuk menjalankan seluruh tahapan proyek sesuai prinsip tata kelola yang baik, keberlanjutan, serta kepentingan strategis nasional.

