Harga Emas dan Perak Sama-sama Cetak Rekor Baru Dipicu Geopolitik dan Pelemahan Dolar
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Harga emas menembus level US$ 4.900 per ons untuk pertama kalinya pada Kamis (23/1/2025) waktu AS didorong ketegangan geopolitik global, pelemahan dolar AS, serta ekspektasi penurunan suku bunga bank sentral AS. Kenaikan ini memperkuat daya tarik emas sebagai aset lindung nilai, sementara harga perak dan platinum juga mencetak rekor tertinggi baru.
Harga emas spot melonjak ke rekor tertinggi US$ 4.917,65 per ons, sementara kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Februari ditutup menguat 1,6% ke level US$ 4.913,4 per ons.
Penguatan harga logam mulia terjadi seiring pelemahan dolar AS sebesar 0,4%. Kondisi tersebut membuat emas batangan yang dihargai dalam dolar AS menjadi lebih menarik bagi pembeli di luar negeri, sehingga mendorong permintaan global.
“Ketegangan geopolitik, dolar yang melemah, ekspektasi pelonggaran kebijakan The Fed tahun ini, semuanya merupakan faktor tak terpisahkan dari tren de-dolarisasi makro dan berdampak pada permintaan (emas),” kata Wakil Presiden dan ahli strategi logam senior Zaner Metals Peter Grant dilansir CNBC.
Baca Juga
Harga Emas Antam (ANTM) Terkoreksi Seusai Cetak Rekor Tertinggi
Sentimen geopolitik menguat setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan telah mengamankan akses total dan permanen Amerika Serikat ke Greenland melalui kesepakatan dengan Pakta Pertahanan Atlantik Utara atau North Atlantic Treaty Organization (NATO). Kepala NATO menyatakan negara-negara sekutu perlu meningkatkan komitmen terhadap keamanan kawasan Arktik untuk menangkal ancaman dari Rusia dan China.
Meski demikian, rincian kesepakatan tersebut belum sepenuhnya jelas. Denmark menegaskan bahwa kedaulatannya atas Greenland tidak dapat dinegosiasikan, sehingga memicu ketidakpastian lanjutan di pasar global.
Dari sisi data ekonomi, laporan Pengeluaran Konsumsi Pribadi (Personal Consumption Expenditures/PCE) AS terbaru menunjukkan pengeluaran konsumen meningkat pada November dan Oktober. Data tersebut mengindikasikan pertumbuhan ekonomi yang kuat selama tiga kuartal berturut-turut.
Pasar keuangan memperkirakan bank sentral AS akan memangkas suku bunga acuan sebanyak dua kali masing-masing seperempat poin persentase pada paruh kedua tahun ini. Ekspektasi tersebut meningkatkan daya tarik emas, karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil bunga.
“Pelemahan jangka pendek akan dilihat sebagai peluang pembelian (emas). Kami telah melihat level US$ 5.000 per ons di dekatnya dan di luar itu proyeksi Fibonacci US$ 5.187,79 per ons terlihat masuk akal,” ujar Grant.
Kenaikan tajam tidak hanya terjadi pada emas. Harga perak melonjak ke rekor tertinggi US$ 96,58 per ons, didukung kombinasi permintaan aset aman dan faktor fundamental yang lebih luas.
Baca Juga
“Perak memiliki narasi fundamental jauh lebih menarik daripada emas. Mungkin perak bukan aset cadangan, seperti emas, tetapi tetap mendapat manfaat dari aliran dana aman dan pelemahan dolar,” kata analis pasar senior Tradu Nikos Tzabouras.
Sementara itu, harga platinum naik 4,6% dan mencetak rekor tertinggi baru di level US$ 2.601,03 per ons. Palladium juga menguat 3,3% ke posisi US$ 1.900,59 per ons, menandai reli serempak di pasar logam mulia.

