Geopolitik Panas, Harga Emas dan Perak Melejit Cetak Rekor
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Harga emas melonjak ke level tertinggi sepanjang masa pada Rabu (14/1/2026), didorong ketidakpastian geopolitik dan ekonomi global yang membuat investor beralih ke aset safe haven. Sementara ekspektasi penurunan suku bunga Federal Reserve (The Fed) menambah momentum kenaikan. Kenaikan juga terjadi pada harga perak yang mencetak rekor.
Harga emas spot naik 1,1% menjadi US$ 4.635,39 per ons, setara sekitar Rp 72,3 juta, setelah sebelumnya menyentuh rekor tertinggi. Kontrak berjangka emas Amerika Serikat (AS) untuk pengiriman Februari naik 1% menjadi US$ 4.644,20 per ons.
“Semua jalan mengarah ke emas dan perak,” kata Chief Operating Officer Allegiance Gold Alex Ebkarian, mengutip permintaan dari berbagai pembeli dan mencatat bahwa pasar berada dalam fase bullish struktural dilansir CNBC.
Baca Juga
Emas, yang tidak menghasilkan bunga, biasanya berkinerja baik pada periode suku bunga rendah dan tingkat ketidakpastian tinggi, sehingga menjadi pilihan utama investor saat risiko global meningkat.
Ketegangan geopolitik kembali memanas setelah Iran memperingatkan negara-negara tetangga yang menampung pasukan Amerika Serikat bahwa mereka akan menyerang pangkalan-pangkalan AS jika Washington campur tangan atas protes di negara tersebut.
Pada saat yang sama, para menteri Denmark dan Greenland dijadwalkan bertemu dengan Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperbarui tuntutan agar AS mengendalikan Greenland.
Dari sisi data ekonomi, penjualan ritel Amerika Serikat pada November naik di atas ekspektasi, sementara Indeks Harga Produsen (Producer Price Index/PPI) memenuhi perkiraan bulanan, tetapi melampaui proyeksi tahunan. Angka tersebut menyusul rilis inflasi inti atau core Consumer Price Index (CPI) Desember yang lebih lemah dari perkiraan sehari sebelumnya. Kondisi ini membuat para pedagang tetap mengantisipasi dua kali penurunan suku bunga sepanjang tahun ini.
Baca Juga
Kekhawatiran terhadap independensi Federal Reserve tetap ada setelah para kepala bank sentral dunia menyatakan dukungan kepada Ketua Federal Reserve Jerome Powell pada Selasa (13/1/2026) menyusul ancaman dakwaan pidana dari pemerintahan Trump.
Sementara itu, harga perak melonjak 6,4% menjadi US$ 92,53 per ons, juga mencetak rekor tertinggi sepanjang masa. “Kami mengantisipasi beberapa volatilitas, tetapi saya melihat harga perak di US$ 100 tidak berbeda dengan di US$ 90. Perkiraan jangka pendek kami adalah antara US$ 100 hingga US$ 144,” kata Ebkarian, menambahkan bahwa logam tersebut kemungkinan akan mempertahankan tren kenaikannya sepanjang kuartal pertama.

