Geopolitik Makin Panas, Emas Terbang Lagi Tembus US$ 4.700
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Harga emas kembali mencetak rekor tertinggi pada Selasa (20/1/2026), menembus level US$ 4.700 per ons, di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global yang mendorong investor memburu aset lindung nilai. Kenaikan tajam ini mempertegas peran emas sebagai aset safe-haven ketika pasar keuangan global diliputi ketidakpastian.
Lonjakan harga terjadi ketika emas spot diperdagangkan naik sekitar 2% ke level US$ 4.757,33 per ons, setelah sempat menyentuh rekor intraday US$ 4.765,93. Pada saat yang sama, kontrak berjangka emas Amerika Serikat untuk pengiriman Februari ditutup menguat 3,7% di posisi US$ 4.765,80 per ons.
Analis pasar menilai reli ini mencerminkan meningkatnya upaya investor untuk melindungi portofolio dari risiko politik yang kian membesar. “Harga emas telah melonjak lebih dalam ke wilayah yang belum pernah terjadi sebelumnya karena investor melakukan lindung nilai terhadap meningkatnya risiko politik,” kata analis pasar di City Index dan FOREX.com Fawad Razaqzada dilansir CNBC.
Ia menambahkan bahwa pergerakan nilai tukar turut memperkuat reli tersebut. “Melemahnya dolar memberikan dorongan tambahan bagi logam mulia, memperkuat reli emas pada saat kepercayaan terhadap aset AS tampaknya goyah,” kata dia.
Tekanan di pasar keuangan global semakin terasa setelah indeks utama Wall Street merosot ke level terendah hampir tiga minggu. Pelemahan ini terjadi ketika investor bereaksi terhadap ancaman tarif baru dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap Eropa, terkait isu kendali atas Greenland.
Baca Juga
Harga Emas Antam (ANTM) Lanjutkan ATH di Tengah Geopolitik Global
Pernyataan tersebut meningkatkan ketegangan menjelang pertemuan Trump dengan para pemimpin bisnis global di Davos, Swiss, yang dijadwalkan berlangsung pada Rabu (21/1/2026). Situasi ini memicu kehati-hatian pelaku pasar dan memperkuat arus dana menuju aset yang dianggap lebih aman.
Di sisi lain, dolar AS diperkirakan mencatatkan penurunan harian terbesar dalam lebih dari satu bulan. Pelemahan mata uang ini membuat harga emas dalam denominasi dolar AS menjadi lebih terjangkau bagi pembeli di luar negeri, sehingga menambah dorongan permintaan.
Sepanjang 2025, emas melonjak 64% dan telah bertambah sekitar 10% sejak awal 2026. Kenaikan tersebut juga didukung oleh ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter Amerika Serikat. Prospek penurunan suku bunga menurunkan biaya peluang memegang emas batangan yang tidak memberikan imbal hasil.
Pasar keuangan memperkirakan adanya dua kali penurunan suku bunga sebesar 25 basis poin mulai pertengahan 2026. Fokus investor semakin menguat setelah Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyatakan bahwa Trump dapat menunjuk ketua Federal Reserve (The Fed) baru paling cepat pada pekan depan.
Dengan tren tersebut, pelaku pasar mulai memproyeksikan target harga yang lebih tinggi. “US$ 4.800 dan US$ 4.900 adalah titik acuan yang jelas berikutnya (untuk emas), dengan angka kunci US$ 5.000 menonjol sebagai target psikologis jangka panjang,” tambah Razaqzada.
Baca Juga
Harga Emas Antam (ANTM) Lanjutkan ATH di Tengah Geopolitik Global
Pergerakan tajam tidak hanya terjadi pada emas. Harga perak spot turun tipis 0,3% ke level US$ 94,38 per ons, setelah sebelumnya menyentuh rekor tertinggi US$ 95,87. Sepanjang 2025, perak telah melonjak sekitar 147% dan masih menguat lebih dari 32% sejak awal 2026.
Sementara itu, logam mulia lainnya juga bergerak positif. Harga platinum naik 2,3% menjadi US$ 2.429,60 per ons, sedangkan paladium menguat 1,1% ke posisi US$ 1.861,61 per ons, mencerminkan sentimen positif yang meluas di pasar logam mulia.

