Eks Dirut Pertamina Ungkap Laba PT PIS Melonjak 4 Kali Lipat di Era Yoki Firnandi
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Keuntungan PT Pertamina International Shipping (PIS) disebut-sebut melonjak signifikan empat kali lipat dari sebelumnya Rp 2 triliun menjadi sekitar Rp 9 triliun saat dipimpin Yoki Firnandi. Hal tersebut disampaikan mantan Direktur Utama (Dirut) PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati saat dihadirkan sebagai saksi dalam sidang perkara dugaan korupsi tata kelola minyak dan produk kilang PT Pertamina di Pengadilan Tipikor Jakarta, Selasa (20/1/2026).
Kuasa hukum Yoki, Wimboyono Senoadji mulanya menanyakan kepada Nicke mengenai pendapatan Pertamina yang meraih Rp 70 triliun pada 2024. Wimboyono menyebut hal itu berbanding terbalik dengan dakwaan jaksa yang menyebut kliennya merugikan negara US$ 2,4 miliar atau sekitar Rp 40,6 triliun dengan kurs saat ini Rp 16.950 per dolar.
Wimboyono pun menanyakan Nicke mengenai kinerja Yoki saat menjabat sebagai dirut PT PIS yang merupakan subholding integrated marine logistic PT Pertamina.
"Pertamina kan dapat pendapatan, revenue terbesar pada 2024 sampai Rp 70 triliun. Hal ini kan bertolak belakang dengan dakwaan yang menjerat klien kami akibat dampak operasional dan bisnis Pertamina pada 2018-2023, termasuk area tanggung jawab klien kami, Pak Yoki selaku direktur PIS sepengatahuan saksi sebagai pemegang saham PIS dan dirut Pertamina, seperti apa PIS di bawah kepemimpinan Pak Yoki?" kata Wimboyono.
Baca Juga
Ahok, Jonan, dan Nicke Widyawati Bakal Bersaksi di Sidang Perkara Pertamina Hari Ini
Merespons pertanyaan tersebut, Nicke menjelaskan bahwa pembentukan subholding untuk meningkatkan nilai Pertamina dengan mengoptimalkan portofolio bisnis agar lebih lincah dan fokus. Hal ini mengingat Pertamina tidak boleh mengambil keuntungan besar dalam menjalankan program public service obligation (PSO). Namun, sebagai perusahaan mandat dari pemegang saham, perusahaan harus tumbuh. Untuk itu, perlu dilakukan investasi.
"Artinya begini, jangan mencari keuntungan dari public service obligation karena ini untuk masyarakat. Oleh karena itu, subholding juga sesuai dengan arahan dari pemegang saham itu diberikan tantangan," katanya.
Untuk PT PIS, Nicke mengatakan, selama ini melayani rute domestik yang sebagian besar untuk PSO. Dalam menjalankan tugasnya, PT PIS tidak boleh mematok harga yang tinggi untuk mengangkut energi yang berkaitan dengan PSO. "Namun, PIS perlu berkembang, maka salah satu program dari Kementerian BUMN adalah PIS ini harus masuk ke pasar. Harus IPO itu target. Di dalam Kementerian BUMN, PIS harus masuk IPO," ucapnya.
Untuk menarik minat publik, PT PIS kemudian melakukan ekspansi dengan pengangkutan kapal ke pasar luar negeri. Dengan ekspansi itu, PT PIS di bawah kepemimpinan Yoki mengalami perkembangan yang pesat. "Di mana Pak Yoki menjadi dirut di PIS, pertumbuhan yang pasar yang luar ini besar," ungkapnya.
Nicke mengaku selalu menekankan kepada jajaran PT PIS untuk tidak mencari keuntungan dalam menjalankan bisnis pengangkutan domestik. Namun, untuk pengangkutan di pasar luar negeri diperbolehkan mencari keuntungan.
"Itu dilakukan oleh PIS dengan tambahan rute yang bisa dikuasai di luar. Nah, kalau di luar ngambil keuntungan boleh, karena itu tidak ada hubungannya dengan APBN. Jadi itu yang dilakukan dan PIS melakukannya dengan baik," ungkap Nicke.
Baca Juga
Satgas Nataru Sukses, Pertamina Siap Hadapi Ramadan dan Idulfitri
"Pada saat kepemimpinan Pak Yoki, Ibu tahu enggak PIS dapat laba hingga empat kali lipat hingga Rp 9 triliun?" tanya Wimboyono.
Nicke kemudian membenarkan lonjakan PT PIS saat dipimpin Yoki. Menurutnya, 2023 menjadi tahun terbaik Pertamina dan anak usahanya dari sisi pendapatan.
"Iya, karena semua subholding itu mengalami kenaikan pada saat itu, 2023 adalah prestasi terbaik Pertamina, baik dari sisi pendapatan maupun dari sisi net profit," kata Nicke.

