Ancaman Tarif Trump Dorong Harga Emas dan Perak ke Rekor Baru
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Harga emas dan perak mencetak rekor tertinggi baru pada Senin (19/1/2026) seiring lonjakan minat investor ke aset lindung nilai di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global, setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan mengenakan tarif tambahan terhadap negara-negara Eropa terkait sengketa kendali atas Greenland. Kondisi ini mendorong pelaku pasar menghindari aset berisiko dan beralih ke logam mulia sebagai instrumen perlindungan nilai.
Harga emas spot naik 1,5% menjadi US$ 4.663,37 per ons pada pukul 03.35 GMT, setelah sebelumnya menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa di level US$ 4.689,39 per ons. Kenaikan juga terjadi pada kontrak berjangka emas Amerika Serikat untuk pengiriman Februari yang menguat 1,6% ke posisi US$ 4.669,90 per ons.
Penguatan harga emas terjadi setelah pada Sabtu (17/1/2026) Trump menyatakan akan menerapkan gelombang kenaikan tarif terhadap sekutu Eropa hingga Amerika Serikat diizinkan membeli Greenland. Pernyataan tersebut memperuncing perselisihan terkait masa depan pulau Arktik yang secara politik berada di bawah kedaulatan Denmark.
Baca Juga
Naiknya Harga Emas Beri Peluang Positif bagi Industri Pergadaian
Para duta besar Uni Eropa pada Minggu (19/1/2026) dilaporkan mencapai kesepakatan luas untuk mengintensifkan upaya diplomasi guna membujuk Trump agar tidak memberlakukan tarif tersebut. Pada saat yang sama, Uni Eropa juga menyiapkan langkah-langkah pembalasan jika kebijakan bea masuk tetap diterapkan, menurut keterangan para diplomat Uni Eropa.
“Ketegangan geopolitik telah memberi para pelaku pasar emas alasan lain untuk mendorong harga logam mulia ini ke level tertinggi baru,” kata analis senior StoneX Matt Simpson dilansir CNBC.
"Dengan Trump yang memberlakukan tarif, jelas bahwa ancamannya terhadap Greenland itu nyata, dan kita bisa selangkah lebih dekat menuju berakhirnya NATO dan ketidakseimbangan politik di Eropa,” ujar Simpson.
Tekanan geopolitik tersebut mendorong kontrak berjangka saham Amerika Serikat dan nilai tukar dolar AS melemah. Kondisi itu meningkatkan daya tarik emas, yen Jepang, dan franc Swiss sebagai aset safe-haven di tengah pergerakan penghindaran risiko yang meluas di pasar global.
Emas, yang tidak memberikan imbal hasil, cenderung berkinerja baik dalam lingkungan suku bunga rendah serta pada periode ketidakpastian ekonomi dan politik yang tinggi.
Perak Melonjak Lebih Tajam
Kinerja perak bahkan melampaui emas. Harga perak spot melonjak 3,3% menjadi US$ 92,93 per ons, setelah sebelumnya mencapai rekor tertinggi di level US$ 94,08 per ons.
“Mengenai perak, narasi jangka menengah tetap konstruktif, didukung oleh defisit fisik yang terus berlanjut, permintaan industri yang tangguh, dan permintaan sebagai aset safe-haven,” kata ahli strategi OCBC Christopher Wong.
Baca Juga
Namun, laju perpanjangan baru-baru ini mungkin memerlukan kehati-hatian taktis dalam jangka pendek.
Ia menambahkan bahwa rasio emas-perak turun tajam dari level mendekati 105 pada akhir 2025 menjadi sekitar kisaran 50, yang mencerminkan kinerja perak yang jauh lebih kuat dibandingkan emas.
Pada logam mulia lainnya, harga platinum naik 0,9% menjadi US$ 2.348,32 per ons, sementara paladium menguat 0,5% ke level US$ 1.808,46 per ons, mengikuti sentimen positif yang meluas di pasar logam mulia.

