Kudeta Maduro oleh Trump Bikin Harga Minyak Naik 1,7%
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Harga minyak mentah dunia naik pada Senin (5/1/2026) waktu AS setelah pemerintahan Presiden AS Donald Trump menggulingkan atau kudeta Presiden Venezuela Nicolas Maduro, sehingga memicu ketidakpastian terhadap Venezuela yang kaya minyak dan meningkatkan kekhawatiran pasar atas stabilitas pasokan global.
Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) acuan Amerika Serikat (AS) menguat US$ 1 atau 1,74% pada US$ 58,32 per barel. Patokan global minyak Brent juga naik US$ 1,01 atau 1,66% dan ditutup pada US$ 61,76 per barel.
Presiden Donald Trump menegaskan pada Sabtu (3/1/2026) bahwa investasi Amerika Serikat di sektor minyak Venezuela menjadi tujuan utama operasi perubahan rezim yang menggulingkan Maduro. Pernyataan ini memperjelas arah kebijakan Washington terhadap negara anggota Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) tersebut.
Baca Juga
Penggulingan Maduro Picu Ketidakpastian, Harga Minyak Tertekan
“Kita akan mengerahkan perusahaan-perusahaan minyak besar Amerika Serikat untuk masuk, menghabiskan miliaran dolar, dan memperbaiki infrastruktur yang rusak parah, infrastruktur minyak,” kata Trump dalam konferensi pers dari kediamannya di Mar-a-Lago, Palm Beach, Florida dilansir CNBC.
Trump menyampaikan bahwa embargo Amerika Serikat terhadap minyak Venezuela tetap berlaku. Sikap ini menambah kompleksitas bagi pasar karena di satu sisi membuka peluang investasi, tetapi di sisi lain tetap membatasi arus ekspor negara tersebut.
Venezuela, salah satu anggota pendiri OPEC, memiliki cadangan minyak mentah terbukti terbesar di dunia sebesar 303 miliar barel atau sekitar 17% dari total global, menurut Badan Informasi Energi Amerika Serikat. Besarnya cadangan ini menjadikan Venezuela pemain kunci dalam keseimbangan pasokan jangka panjang.
Produksi minyak negara itu mencapai sekitar 3,5 juta barel per hari pada puncaknya di akhir 1990-an, tetapi kemudian menurun tajam dalam dua dekade terakhir. Menurut perusahaan konsultan energi Kpler, Venezuela saat ini hanya memproduksi sekitar 800.000 barel per hari.
Chevron menjadi satu-satunya perusahaan minyak besar Amerika Serikat yang masih beroperasi di Venezuela. Menurut Kpler, perusahaan ini mengekspor sekitar 140.000 barel per hari pada akhir kuartal keempat 2025. Hal ini menunjukkan keterlibatan terbatas perusahaan AS di tengah sanksi dan ketidakpastian politik.
"Dampak penggulingan Maduro terhadap harga minyak dalam jangka pendek masih belum jelas," kata Kepala Riset Minyak Goldman Sachs Daan Struyven.
Ia menilai produksi dapat sedikit meningkat jika pemerintahan yang didukung Amerika Serikat terbentuk dan pemerintahan Trump mencabut sanksi terhadap Venezuela, menurut catatan yang disampaikan kepada klien.
Baca Juga
Bahlil Sebut untuk Kelola Sumur Minyak Tak Harus Jadi Konglomerat
Namun, Struyven juga mengingatkan bahwa perubahan kekuasaan dapat memicu gangguan pasokan dalam jangka pendek. Dalam jangka panjang, investasi Amerika Serikat yang meningkatkan produksi Venezuela berpotensi menekan harga minyak, meskipun pemulihan produksi diperkirakan berlangsung bertahap dan tidak penuh.
Kepala Strategi Komoditas Global RBC Capital Markets Helima Croft mengatakan para eksekutif perusahaan minyak yang beroperasi di Venezuela memperkirakan dibutuhkan sekitar US$ 10 miliar per tahun untuk memulihkan produksi. Ia menekankan bahwa lingkungan keamanan yang stabil menjadi syarat utama untuk mengembalikan produksi ke tingkat historis.
Pencabutan sanksi secara penuh dapat mengembalikan produksi hingga beberapa ratus ribu barel per hari dalam jangka waktu 12 bulan jika terjadi transisi kekuasaan yang tertib, kata Croft dalam catatannya.

