Volatilitas Tinggi Warnai Akhir 2025, Harga Perak Melonjak 10%
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Harga perak berjangka melonjak lebih 10% pada perdagangan Selasa (30/12/2025), memperpanjang volatilitas tajam yang mewarnai pergerakan logam mulia sepanjang 2025 dan menarik perhatian investor global.
Kontrak berjangka perak pengiriman Maret ditutup melonjak 10,59% ke level US$ 77,92 per ons setara sekitar Rp 1,25 juta per ons, sehingga secara kumulatif mencatatkan kenaikan 166% sepanjang 2025. Lonjakan tersebut menempatkan perak sebagai salah satu komoditas dengan kinerja terbaik tahun ini.
Pergerakan ekstrem ini terjadi setelah harga perak mencetak rekor tertinggi sepanjang masa pada Senin (29/12/2025) dengan menembus US$ 80 per ons untuk pertama kalinya. Namun, reli tersebut tidak bertahan lama karena harga berbalik arah dan mencatatkan penurunan harian terdalam sejak Februari 2021 dengan koreksi 8,7% pada penutupan perdagangan hari yang sama.
“Ini adalah langkah bersejarah, kita sudah lama tidak melihat langkah seperti ini,” kata CEO KKM Financial Jeff Kilburg dilansir CNBC.
Baca Juga
Reli Terkuat dalam Dekade, Emas dan Perak Kalahkan Saham dan Kripto di 2025
Meski reli 2025 dinilai luar biasa, prospek kenaikan harga komoditas pada 2026 diperkirakan tidak akan spektakuler tahun ini.
Kepala Makro Lombard Odier Investment Managers Florian Ielpo menilai percepatan pertumbuhan ekonomi di banyak negara pada 2026 dapat menggeser minat investor dari logam mulia defensif ke komoditas yang lebih bersifat siklikal.
“Kami melihat komoditas sebagai salah satu sektor dengan kinerja terbaik untuk tahun depan, tetapi sumber kinerja tersebut lebih berasal dari komoditas siklikal daripada logam mulia defensif,” kata Ielpo kepada “Squawk Box Europe” pada Selasa (30/12/2025).
Seiring pergerakan perak, harga emas berjangka juga pulih dari tekanan jual tajam pada awal pekan. Emas pada Selasa diperdagangkan menguat 1,2% ke level US$ 4.394,30 per ons setara sekitar Rp 70,31 juta per ons. Sementara itu, harga tembaga berjangka tercatat naik 1,9% ke posisi US$ 5,673 per ons setara sekitar Rp 90.768 per ons.
Sepanjang 2025, logam mulia mencatatkan kinerja impresif yang didorong kombinasi berbagai faktor. Sebagai aset safe-haven atau instrumen lindung nilai saat ketidakpastian, emas dan perak diuntungkan oleh meningkatnya ketegangan geopolitik global. Keduanya juga dipandang sebagai pelindung nilai terhadap inflasi, sementara pelemahan dolar AS membuat harga logam mulia lebih terjangkau bagi pembeli di luar Amerika Serikat.
Baca Juga
Emas dan Perak Tembus Rekor Tertinggi Baru di Tengah Ketegangan Geopolitik dan Pelemahan Dolar
Ekspektasi penurunan suku bunga global dan kekhawatiran terhadap kendala pasokan turut memperkuat sentimen kenaikan harga. Tekanan pasokan menjadi sorotan setelah CEO Tesla Elon Musk menyampaikan peringatan terkait kebijakan China yang akan membatasi ekspor perak mulai 1 Januari 2026. “Perak dibutuhkan dalam banyak proses industri,” tulis Musk di platform X pada akhir pekan, pernyataan yang dinilai pasar berpotensi memicu kenaikan harga lanjutan.
Perak memiliki peran penting dalam berbagai sektor industri, terutama elektronik. Logam ini digunakan secara luas dalam panel tenaga surya, pusat data, serta kendaraan listrik, sehingga prospek permintaan jangka panjang tetap dipandang kuat di tengah transisi energi dan digitalisasi global.

