Reli Terkuat dalam Dekade, Emas dan Perak Kalahkan Saham dan Kripto di 2025
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Harga emas dan perak mencatat lonjakan tajam sepanjang 2025, dengan total kenaikan kapitalisasi pasar gabungan mencapai sekitar US$ 16 triliun, berdasarkan data Bloomberg. Kinerja kedua logam mulia tersebut mengungguli seluruh kelas aset utama, di tengah pelemahan dolar AS dan perubahan arah kebijakan moneter global.
Sepanjang 2025, emas mencatat kinerja empat kali lebih baik dibandingkan indeks S&P 500, sementara perak melonjak hingga delapan kali lipat. Reli logam mulia ini dipicu oleh penurunan nilai dolar AS yang terdepresiasi sekitar 9% secara year-to-date, menjadi kinerja tahunan terburuk sejak 2017.
Tekanan terhadap dolar semakin meningkat setelah Federal Reserve mulai memangkas suku bunga pada September 2025. Sentimen pasar kian tertekan ketika Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada 12 Desember menyatakan keinginannya agar suku bunga acuan diturunkan hingga “1% atau bahkan lebih rendah”, yang memperkuat ekspektasi kebijakan moneter longgar.
Baca Juga
Emas dan Perak Tembus Rekor Tertinggi Baru di Tengah Ketegangan Geopolitik dan Pelemahan Dolar
China Perketat Ekspor Perak
Harga perak mencatat reli paling signifikan. Sepanjang 2025, harga perak melonjak sekitar 175% dan mencatatkan kenaikan selama delapan bulan berturut-turut, sebuah tren yang terakhir kali terjadi pada 1980. Pada Desember saja, harga perak naik 41%, menjadikannya bulan terbaik sejak Desember 1979.
Di Shanghai, harga perak mencapai US$ 85 per ons, sekitar US$ 5 lebih tinggi dibandingkan harga spot di Amerika Serikat. Lonjakan ini terjadi menjelang pemberlakuan aturan ekspor baru China pada 2026, yang mewajibkan perusahaan memperoleh lisensi khusus pemerintah sebelum mengekspor perak ke luar negeri. Kebijakan tersebut mendorong lonjakan permintaan, seiring pembeli bergegas mengamankan pasokan sebelum pembatasan diberlakukan.
Bank sentral China, People’s Bank of China (PBoC), juga tercatat meningkatkan pembelian logam mulia. Pada kuartal III-2025, PBoC membeli 118 ton, naik 39% dibandingkan bulan sebelumnya dan 55% secara tahunan. Namun, Goldman Sachs menilai angka resmi tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan realisasi di lapangan.
Secara resmi, China melaporkan pembelian 15 ton pada September dan 24 ton sepanjang 2025. Namun Goldman Sachs memperkirakan total pembelian riil bisa mendekati 240 ton sepanjang tahun ini.
Baca Juga
Kripto Tertinggal
Berbanding terbalik dengan logam mulia, Bitcoin justru terkoreksi sekitar 6% sepanjang 2025. Setelah sempat naik hingga 40% pada awal tahun, harga Bitcoin tertekan oleh aksi deleveraging yang meluas di pasar kripto. Volatilitas tinggi dan tekanan likuidasi menyebabkan pasar aset digital kehilangan momentum menjelang akhir tahun.
Dengan kontras kinerja yang tajam antara logam mulia dan aset kripto, pasar global pada 2025 menunjukkan pergeseran preferensi investor menuju aset lindung nilai tradisional di tengah ketidakpastian ekonomi dan arah kebijakan moneter global.

