Harga Bitcoin Jatuh Usai Trump Serang Nuklir Iran, Pasar Bersiap Hadapi Volatilitas Tinggi
Dalam pidato yang disiarkan secara nasional dan diunggah ke platform Truth Social, Trump memperingatkan bahwa Iran ‘harus berdamai sekarang’ atau akan menghadapi serangan tambahan. Pernyataan ini memicu kekhawatiran pasar global menjelang pembukaan perdagangan Wall Street yang diprediksi akan bergejolak.
Menurut Data Cointelegraph Markets Pro dan TradingView, aksi jual langsung mendorong Bitcoin ke titik krusial. Beberapa analis menilai situasi ini bisa memperparah tekanan teknikal.
“Penurunan menuju US$ 93.000 - US$ 94.000 mungkin terjadi sebelum pembentukan dasar dan pembalikan harga,” ujar analis dan trader populer Cas Abbe, dilansir dari Cointelegraph, Senin (23/6/2025).
Baca Juga
AS Serang Lokasi Nuklir Iran, Bitcoin Sempat Jatuh ke Bawah US$ 100.000 Untuk Pertama Kali Sejak Mei
Namun, ia menambahkan bahwa peluang Bitcoin jauh ke zona US$ 90.000-an masih relatif kecil, hanya sekitar 20%-25%.
Para pengamat membandingkan situasi saat ini dengan momen serupa di masa lalu. Trader Merlijn misalnya, mengingatkan bahwa pada 2022 saat pecahnya perang Ukraina, Bitcoin justru melonjak 42% dalam waktu 35 hari, meskipun saat itu pasar sedang dalam tren bearish.
“Sekarang tahun 2025, ketakutan akan perang kembali memuncak. Tapi Bitcoin masih bertahan di atas US$ 100.000 dan pasar sedang dalam tren naik. Jika sejarah terulang dengan lebih banyak bahan bakar, skenarionya bisa sangat berbeda,” katanya.
Baca Juga
Namun, tidak semua analis sepenuhnya optimistis. Salah satu trader yang kerap disorot komunitas kripto yaitu Crypto Tony menyatakan keprihatinannya terhadap level support penting.
“Saya tetap bertahan di atas US$ 93.500, tapi saya benar-benar ingin melihat US$ 104.500 dipertahankan agar bullish tetap mendominasi,” ucapnya.
Jika melirik data Coinmarketcap, Senin (23/6/2025) pukul 14.25 WIB, harga Bitcoin (BTC) berada di level US$ 101.912 atau turun 0,71% dalam 24 jam terakhir.

