Gakoptindo Dorong Segmentasi Kedelai Lokal dan Impor Demi Ketahanan Pangan
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Sekretaris Jenderal Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo), Wibowo Nurcahyo, menyampaikan perlunya strategi segmentasi pasar kedelai sebagai kunci menjaga ketahanan pangan nasional sekaligus mendukung keberlanjutan industri tempe dan tahu.
Segmentasi tersebut diarahkan agar penggunaan kedelai impor difokuskan untuk konsumsi masyarakat umum, sementara kedelai lokal dimanfaatkan secara khusus untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG), termasuk produksi susu kedelai non-GMO.
“Segmentasinya harus jelas supaya tidak saling mengganggu. Susu kedelai untuk MBG pakai kedelai lokal, sedangkan kedelai impor untuk pasar umum,” ujar Wibowo dalam pernyataannya dikutip Selasa (16/12/2025).
Menurut Wibowo, kedelai lokal memiliki kelebihan sebagai produk non-GMO (Genetically Modified Organism). Artinya kedelai lokal tidak mengalami proses rekayasa genetika, sehingga bisa dikatakan jauh lebih baik ketimbang produk kedelai impor yang sebagian besar dibudidayakan lewat rekayasa genetika. “Bahan baku tempe dan tahu untuk MBG harus yang terbaik. Saat ini pilihannya adalah kedelai lokal,” ujarnya.
Baca Juga
Produsen Ungkap RI Masih Bergantung dengan Kedelai Impor AS Dibanding Brasil
Ia pun menyoroti pentingnya menjaga pasokan kedelai serta stabilitas harga, seiring bergulirnya program MBG. Dukungan terhadap penggunaan kedelai lokal untuk program ini juga sejalan dengan Asta Cita Presiden Prabowo. Ditambah lagi tempe dan tahu merupakan sumber protein yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat saat ini.
Sekadar informasi, kata Wibowo, rata-rata konsumsi tempe mencapai sekitar 1,5 kilogram per rumah tangga per bulan, sementara tahu berkisar 1,7 hingga 1,8 kilogram per bulan. Untuk itu, stabilitas pasokan kedelai menjadi faktor krusial dalam menjaga ketahanan pangan nasional.
Namun demikian, Wibowo memaparkan bahwa produksi kedelai lokal saat ini belum mencukupi kebutuhan nasional. Dari kebutuhan sekitar 2,9 juta ton per tahun, serapan kedelai lokal masih di kisaran 100 ribu ton per tahun. Sehingga langkah pemenuhan kebutuhan produk berbahan dasar kedelai sejauh ini masih lebih banyak mengandalkan pasokan kedelai impor.

