Ombudsman Minta Pemerintah Kaji Potensi Kedelai Lokal Masuk di Rantai Pasok MBG
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Anggota Ombudsman RI Yeka Hendra Fatika mengusulkan agar pemerintah mengatur tata kelola budi daya kedelai lokal untuk dijadikan sebagai bahan baku susu kedelai yang mampu mensubstitusi kebutuhan susu dalam menu Makanan Bergizi Gratis.
Selain mampu memberikan alternatif sumber protein, langkah ini diharapkan mampu meningkatkan ketertarikan petani lokal untuk mau berbudi daya kedelai, dan pada akhirnya Indonesia mampu setidaknya mengurangi ketergantungan pada kedelai impor.
“Selama ini para petani lokal enggan menanam kedelai karena hasil produksinya tak mampu bersaing dengan kedelai impor. Namun jika ada keberpihakan pemerintah untuk mendukung budi daya kedelai lokal lewat pembentukan ekosistem produksi hingga hilir dan menciptakan off taker-nya di program MBG, petani akan tertarik karena peroduksi mereka akan diserap,” ujar Yeka dalam perbincangan dengan Investortrust beberapa waktu lalu.
Penggunaan kedelai lokal untuk bahan baku susu kedelai, menurut Yeka juga amat sesuai dengan concern publik mengenai tingginya rekayasa genetik pada produk kedelai impor (Genetically Modified Organisms atau Organisme Hasil Rekayasa Genetika). Kedelai impor memang diyakini diproduksi lewat proses GMO yang mampu membuat hasil panen menjadi lebih besar, lebih tahan hama dan kaya nutrisi. Namun banyak kalangan mengkritisi bahwa budidaya pangan yang dihasilkan lewat praktik GMO akan menghasilkan efek samping bagi konsumen.
“Jadi mestinya kedelai-kedelai lokal kita itu dibikin sederhana. Jadikan susu kedelai. Pemerintah bikin susu kedelai, nanti dijadikan menu dalam MBG,” tuturnya.
Ketersediaan pasokan komoditas kedelai selalu menjadi concern publik, mengingat hasil budi daya kedelai telah menjadi sumber protein nabati yang sangat terjangkau bagi masyarakat. Tak ayal, sedikit saja kenaikan harga kedelai, bisa berujung protes di kalangan pebudi daya tahu tempe di Tanah Air, termasuk para ibu rumah tangga yang selama ini menjadikan tahu dan tempe sebagai substitusi sumber protein dalam menu makan keluarga mereka.
Sejauh ini Indonesia masih mengandalkan pasokan kedelainya utamanya dengan cara mengimpor dari Amerika Serikat, Kanada, Argentina dan Brasil. Pada tahun 2024, jumlah kedelai yang diimpor mencapai 2,67 juta ton, yang sebagian besar didatangkan dari AS, yakni sebesar 2,37 juta ton. Sementara produksi kedelai lokal hanya berkisar di kisaran 300 ribu ton per tahun.
Baca Juga
Gakoptindo Dorong Segmentasi Kedelai Lokal dan Impor Demi Ketahanan Pangan
Namun demikian Yeka juga memahami masih ada kendala lainnya berupa keterbatasan lahan di lingkup petani, yang tak mampu mendukung tingkat produksi yang sesuai dengan skala keekonomian. “Rata-rata kepemilikan lahan para petani kan hanya sekitar 200 meter persegi, sulit untuk mengembangkan hasil yang besar,” kata Yeka.
Ia pun mengusulkan agar food estate yang dicanangkan pemerintah, seperti yang digelar di Merauke, Papua, bisa diisi oleh tanaman kedelai lokal. Tak semata membuka lahan pertanian kedelai, idealnya pemerintah ikut mengembangkan ekosistem produk hilirnya di dekat food estate, dengan membangun pabrik susu kedelai.
“Kembangkan di lahan misalnya 1.000 hektare, dan dari situ terkoneksi langsung ke industrinya, misalnya industri susu. Semua produksi di lahan ini masuk ke industri susu, jadi ada nilai tambahnya di sini. Pasti untung,” kata Yeka.
Susu kedelai inilah yang nanti bisa menjadi alternatif menu berbasis protein bagi program MBG. Harapannya akan terbentuk rantai pasok produk kedelai yang lebih terjamin keberlanjutannya.
Ke depan, jika ekosistem kedelai lokal ini terbangun, maka bisa muncul ketertarikan petani untuk ikut membudidayakan kedelai lokal.

