Triputra Agro (TAPG) Optimalkan Limbah POME Jadi Listrik Mandiri
Poin Penting
|
SUKAMARA, Investortrust.id - PT Sukses Karya Mandiri, anak perusahaan PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG), mengintegrasikan unit pengolahan kelapa sawit menjadi sistem sirkular yang mandiri energi.
Perusahaan mengubah limbah cair pabrik atau palm oil mill effluent (POME) menjadi listrik berbasis energi baru terbarukan (EBT) melalui pembangkit listrik tenaga biogas (PLTBg) yang telah beroperasi sejak 2023. Integrasi ini memperkuat upaya perusahaan dalam meminimalkan konsumsi bahan bakar fosil serta mengurangi pelepasan gas metana ke lingkungan.
Mill Manager PT Sukses Karya Mandiri, Roganda menjelaskan, manajemen memusatkan integrasi tiga fasilitas utama, yakni pabrik kelapa sawit, biogas plant, dan kernel crushing plant. "Limbah cair dihasilkan PKS, yang merupakan bahan organik murni tanpa penambahan bahan kimia, menjadi sumber energi utama dalam proses tersebut," kata dia di Sukamara, Kalimantan Barat, Kamis (11/12/2025).
Baca Juga
Triputra Agro (TAPG) Kantongi Dividen Interim Rp 628 Miliar dari Anak Usaha
Dia mengatakan POME diproses secara mekanikal tanpa reaktor kimia, sehingga memudahkan tahap konversi menjadi energi. "Limbah yang kami hasilkan, POME, hanya mengandung bahan organik dari proses pengolahan fisik kelapa sawit. Kami tidak menggunakan reaktor kimia, semuanya mekanikal," kata Roganda.
Roganda menuturkan bahwa ampas padat hasil pengepresan buah kelapa sawit digunakan sebagai bahan bakar boiler untuk mendukung operasi pabrik. Sementara POME dialirkan ke biogas plant dan diproses melalui biodigester guna menangkap gas metana sebagai sumber energi. Kapasitas fasilitas tersebut mencapai 2 megawatt sehingga cukup untuk menyuplai kebutuhan operasional internal.
"Fungsi utama biogas plant kami saat ini adalah sebagai power untuk KCP. KCP membutuhkan sekitar 1,3 sampai 1,4 mega per jam, dan kebutuhan energi tersebut sepenuhnya kami penuhi dari metana yang kami tangkap," ujarnya.
Ia mengatakan pemanfaatan listrik dari biogas memungkinkan perusahaan menggantikan penggunaan genset berbahan bakar solar. Daya yang dihasilkan juga digunakan untuk kebutuhan internal lain, termasuk perumahan karyawan. Konversi energi ini sekaligus membantu pengendalian emisi gas rumah kaca, mengingat metana merupakan salah satu gas dengan potensi pemanasan tinggi.
Gas metana mentah yang ditangkap kemudian menjalani proses treatment, termasuk penyaringan melalui scrubber untuk mengurangi kandungan hidrogen sulfida dan pendinginan untuk mengontrol kelembapan sebelum gas masuk ke mesin turbin.
Baca Juga
Terapkan Sistem Satu Atap, Koperasi Binaan Anak Usaha TAPG Sejahterakan Ratusan Petani Sawit
"Jika produksi gas berlebih dan tidak digunakan, kelebihan tersebut dibakar melalui flare dengan pembakaran sempurna. Ini penting, karena daripada metana terbuang ke alam, lebih baik dibakar. Namun, prioritas kami adalah mengkonversinya menjadi listrik," kata Roganda.
Ia menambahkan bahwa rangkaian proses ini turut mendukung konsep zero waste. Limbah akhir dari biodigester tetap disalurkan ke Instalasi pengolahan air limbah untuk menurunkan kadar biological oxygen demand sebelum akhirnya dimanfaatkan sebagai pupuk organik cair di area perkebunan perusahaan.

