Harga Emas Naik Jelang Keputusan The Fed, Perak Cetak Rekor
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Harga emas naik pada Selasa (9/12/2025) didorong optimisme pelaku pasar menjelang keputusan suku bunga Federal Reserve AS (The Fed). Pada saat yang sama, perak melonjak hingga menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa di pasar global seiring meningkatnya kekhawatiran soal pasokan.
Harga emas spot naik 0,4% menjadi US$ 4.205,36 per ons (sekitar Rp 67,29 juta), sementara emas berjangka AS untuk pengiriman Februari menguat 0,4% menjadi US$ 4.234,4 per ons (sekitar Rp 67,75 juta).
Pergerakan paling tajam terjadi pada perak. Perak melesat 4% menjadi US$ 60,52 per ons (sekitar Rp 968.320 per gram), level tertinggi dalam sejarah perdagangan logam mulia tersebut.
Baca Juga
EMAS Kantongi Kredit US$ 350 Juta, Proyek Tambang Emas Pani Siap Produksi Awal 2026
Analis pasar di City Index dan Forex.com, Fawad Razaqzada, mengatakan pelaku pasar melihat potensi lonjakan permintaan industri perak dalam jangka panjang. “Orang-orang mengantisipasi bahwa akan ada permintaan industri yang kuat untuk perak selama beberapa tahun mendatang, itulah sebabnya harganya naik,” ujarnya dilansir CNBC.
Ia menambahkan bahwa momentum pembelian saat ini sangat kuat.
Harga perak dalam beberapa bulan terakhir telah didukung oleh menipisnya persediaan, inventaris global yang terus menyusut, ekspektasi penurunan suku bunga oleh Federal Reserve AS, serta masuknya perak ke dalam daftar mineral penting AS.
Ahli strategi pasar senior di RJO Futures, Bob Haberkorn, menilai pergerakan emas pun tidak terlepas dari efek lonjakan harga perak. “Pergerakan harga emas saat ini didorong oleh lonjakan harga perak yang signifikan dan ekspektasi tinggi terhadap penurunan harga seperempat poin lagi,” ujarnya.
Rapat kebijakan dua hari Federal Reserve dimulai pada Selasa dan akan berakhir dengan pengumuman keputusan pada Rabu (10/12/2025) waktu AS. Pelaku pasar menanti sinyal terkait prospek suku bunga hingga tahun depan.
Sementara itu, laporan pembukaan lowongan kerja JOLTS oleh Departemen Tenaga Kerja AS mencatat adanya kenaikan 12.000 menjadi 7,67 juta pada Oktober, lebih tinggi dari perkiraan 7,15 juta. Data tersebut menandakan pasar tenaga kerja yang tetap ketat sehingga berpotensi menahan laju pemangkasan suku bunga.
Meski demikian, para pedagang kini memproyeksikan peluang 87,4% untuk pemotongan suku bunga sebesar 25 basis poin pekan ini, sedikit turun dari proyeksi sebelumnya setelah rilis data ketenagakerjaan.
Baca Juga
Harga Emas Naik Tipis Jadi Rp 2.442.000 per Gram, Cek Rinciannya
Haberkorn mengatakan emas masih mampu mengabaikan data tenaga kerja terbaru. Ia memperkirakan perak dapat diperdagangkan di atas US$ 70 per ons (sekitar Rp 1,12 juta per gram) pada paruh pertama 2026, sementara emas berpotensi menuju US$ 5.000 per ons (sekitar Rp 80 juta).
Dalam sebuah penelitian yang dirilis pada Selasa, Silver Institute menyebutkan sektor-sektor, seperti energi surya, kendaraan listrik beserta infrastrukturnya, pusat data, dan kecerdasan buatan akan mendorong permintaan industri perak yang lebih tinggi hingga 2030.
Manajer portofolio senior sekaligus kepala investasi di Sprott Asset Management, Maria Smirnova, menilai pasar perak akan menghadapi tekanan struktural bila defisit pasokan tidak segera diatasi. “Logam pada dasarnya fluktuatif, tetapi jika kita tidak memperbaiki defisitnya, perak hanya punya satu jalan keluar, yaitu naik,” katanya.
Selain emas dan perak, logam mulia lainnya juga bergerak naik. Platinum menguat 2,8% menjadi US$ 1.688,30 per ons (sekitar Rp 27,01 juta), sementara paladium naik 2,6% menjadi US$ 1.503,43 per ons (sekitar Rp 24,05 juta).

