BI Paparkan 5 Risiko Global Intai Ekonomi RI, Tarif AS hingga Utang Global
Poin Penting
| ● | Tarif AS, perlambatan ekonomi global, dan fragmentasi perdagangan menekan prospek ekonomi Indonesia. |
| ● | Utang tinggi negara maju dan yield US Treasury memberi tekanan pada fiskal negara berkembang. |
| ● | Risiko derivatif, pelarian modal, serta kripto dan stablecoin memperbesar volatilitas keuangan global. |
JAKARTA, investortrust.id - Deputi Gubernur Senior (DGS) Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti melihat terdapat lima tantangan perekonomian global yang akan mempengaruhi perekonomian domestik.
“Yang pertama adalah kebijakan tarif di Amerika,” kata Desty, saat menghadiri Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, di Jakarta, Senin (1/12/2025).
Baca Juga
Menko Airlangga Berharap Kadin Indonesia Persiapkan Diri Hadapi IEU-CEPA
Menurut Destry, tarif AS yang berlanjut akan mengakibatkan turunnya perdagangan dunia. Selain itu, tarif AS menandai mulai meredupnya multilateralisme dan bangkitnya bilateralisme dan regionalisme.
Masalah kedua yang dihadapi, yaitu pertumbuhan ekonomi global yang melambat karena terfragmentasi. Destry melihat pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat (AS) dan China akan melambat. Namun, di sisi lain beberapa negara, seperti India, Indonesia, dan Uni Eropa justru berpotensi memiliki pertumbuhan ekonomi yang lebih baik.
Meski demikian, dengan adanya tarif dan tekanan di AS, khususnya dari lapangan pekerjaan dan wage inflation penurunan inflasi akan berjalan lambat. Kondisi ini akan mempengaruhi kebijakan moneter bank sentral di mana pun. “Yang ketiga adalah highly debt leverage khususnya di sektor keuangan global,” ucap dia.
Menurut Destry, tingginya utang pemerintah di negara-negara maju dan suku bunga negara maju yang tetap bertahan tinggi akan memberikan dampak terhadap beban fiskal. Sebagai contoh, tingginya utang AS menyebabkan refinancing sehingga penerbitan obligasi Pemerintah AS terus berjalan.
“Ini membuat yield US Treasury akan tinggi dan akhirnya menyebabkan beban dari fiskal tinggi, pada akhirnya akan mempengaruhi beban fiskal di negara berkembang,” kata dia.
Baca Juga
Prabowo: Ekonomi Indonesia Menjanjikan di Tengah Ketidakpastian Global
Keempat, kata Destry, tingginya rentan dan risiko keuangan dunia karena transaksi produk derivatif yang berlipat. Hal ini terutama dilakukan oleh para hedge fund dan machine learning. “Ini berdampak pada pelarian modal dan tekanan pada nilai tukar, khususnya emerging economies termasuk Indonesia,” ucap dia.
Kelima adalah maraknya penggunaan kripto dan stable coin yang diterbitkan oleh pihak swasta. Pergerakan alat tukar digital itu tak bisa diawasi tanpa pengaruh dan pengawasan yang jelas dari regulator.

