Garuda Siapkan 'Private Placement' Rp 30,5 triliun untuk Pulihkan Ekuitas dan Perkuat Citilink
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) tengah menyiapkan langkah besar lewat rencana private placement senilai US$ 1,85 miliar atau setara Rp 30,5 triliun. Aksi korporasi ini akan dilakukan melalui penerbitan sekitar 407,9 miliar saham baru dengan harga pelaksanaan Rp 75 per saham.
Dari total nilai tersebut, sekitar US$ 1,44 miliar berasal dari setoran kas, sementara US$ 405 juta merupakan konversi shareholder loan (SHL). Perseroan telah menjadwalkan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 12 November 2025 untuk meminta persetujuan pemegang saham atas rencana tersebut.
Menurut Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, suntikan dana jumbo ini diarahkan untuk memperkuat fondasi keuangan sekaligus menopang ekspansi operasional.
Dana hasil private placement 29% untuk modal kerja dan operasional, 37% untuk peningkatan modal di Citilink guna mendukung pemulihan armada dan modal kerja, 22% untuk ekspansi armada Garuda dan Citilink dengan target penambahan lebih 100 pesawat hingga 2029, serta 12% untuk menambah modal Citilink dalam rangka pelunasan utang pembelian bahan bakar kepada Pertamina.
Dari sisi keuangan, transaksi ini akan menjadi titik balik signifikan. Ekuitas Garuda yang per 30 Juni 2025 masih negatif sekitar US$ 1,5 miliar diperkirakan berbalik positif menjadi sekitar US$ 350 juta setelah private placement. Dengan demikian, perseroan berpotensi memenuhi salah satu syarat untuk keluar dari papan pemantauan khusus (full call auction/FCA), tentunya jika seluruh kriteria bursa dapat dipenuhi.
Likuiditas dan solvabilitas juga diproyeksikan membaik secara nyata kas dan setara kas akan bertambah sekitar US$ 1,44 miliar, current ratio naik dari 0,44x menjadi 1,53x, serta debt to asset ratio turun dari 123% menjadi 96%. Garuda pun menargetkan posisi modal kerja berbalik positif.
Baca Juga
Konversi pinjaman pemegang saham senilai US$ 405 juta menjadi ekuitas akan langsung menurunkan liabilitas berbunga. SHL tersebut sebelumnya telah dikucurkan secara bertahap sejak Juni hingga September 2025 senilai total Rp 6,65 triliun. Dampaknya, beban bunga berkurang dan ruang bagi Garuda untuk bernapas lebih lega dalam menjalankan operasi terbuka lebih lebar.
Dengan porsi dana besar yang dialokasikan ke Citilink serta peningkatan armada dan perawatan pesawat, utilisasi dan keandalan layanan diharapkan meningkat. Hal ini berpotensi memperbaiki load factor dan yield, meski profitabilitas tetap bergantung pada efisiensi biaya, harga avtur, nilai tukar, dan tren permintaan.
Secara struktur keuangan, langkah ini memang memperbaiki profil utang dan memperluas ruang ekspansi. “Perbaikan debt to equity ratio melalui debt to equity swap SHL dan ruang pelunasan kewajiban dari dana kas baru meningkatkan solvabilitas dan membuka ruang ekspansi bertahap, seperti penambahan armada dan rute. Namun perbaikan laba tetap bergantung pada eksekusi operasional dan kondisi pasar,” ujar Liza.
Meski demikian, Kiwoom Sekuritas menilai ada risiko yang perlu dicermati, terutama dari sisi eksekusi dan potensi dilusi besar akibat penerbitan saham baru.
“Pendekatan yang lebih bijak bagi investor ritel adalah menunggu kepastian hasil RUPSLB dan realisasi setoran kas maupun konversi, laporan pro-forma resmi pasca-transaksi, serta bukti perbaikan indikator operasional, seperti load factor, ketepatan waktu, yield, dan rencana armada serta rute,” tulis riset Kiwoom.
Dalam pandangan Kiwoom Research, private placement ini memang berpotensi menjadi momentum restrukturisasi nyata bagi Garuda. Transaksi sekitar US$ 1,85 miliar diyakini bisa membalik posisi ekuitas menjadi positif sekitar US$ 350 juta, mendorong current ratio ke kisaran 1,5x, sekaligus memangkas liabilitas lewat konversi pinjaman sekitar US$ 405 juta.
“Nilai bagi pemegang saham, baru nyata jika pasca-RUPSLB 12 November manajemen mengeksekusi disiplin biaya, meningkatkan utilisasi armada, dan memperkuat tata kelola,” tegas Liza.
Baca Juga
Adapun indikator kinerja yang patut dipantau mencakup penurunan CASK ex-fuel (cost per available seat kilometer tanpa biaya avtur) secara tahunan dan terhadap panduan internal, load factor minimal di atas 80% secara konsisten, on-time performance (OTP) di atas 85% berkelanjutan, serta tren kenaikan yield per RASK (revenue per available seat kilometer) yang tidak hanya dipicu oleh fuel surcharge.
Selain itu, arus kas operasi positif per kuartal, pengendalian capex, serta penurunan bertahap net debt/EBITDA menjadi kunci keberlanjutan restrukturisasi. Aspek kontraktual juga tak kalah penting, termasuk renegosiasi leasing, perawatan, dan pasokan avtur yang berdampak langsung pada penghematan biaya.
“Maskapai global bisa laba karena disiplin kapasitas dan efisiensi Garuda pun bisa asal governance dan eksekusi benar-benar diperketat, bukan hanya wacana,” tutup Liza.

