Harga Emas Tembus US$ 4.300 per Ons di Tengah Ketegangan AS–Tiongkok
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Harga emas dunia kembali mencetak rekor tertinggi untuk sesi keempat berturut-turut pada Kamis (16/10/2025), menembus level US$ 4.300 per ons di tengah meningkatnya ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok serta ketidakpastian akibat penutupan sebagian pemerintahan AS. Kenaikan ini menandai momentum baru bagi logam mulia yang selama ini menjadi aset safe haven bagi investor ketika pasar global bergejolak.
Harga emas spot naik 0,4% menjadi US$ 4.343,63 per ons, setelah sebelumnya menyentuh rekor US$ 4.330,42. Sementara itu, emas berjangka AS untuk pengiriman Desember ditutup 2,5% lebih tinggi pada US$ 4.304,60, juga mencetak rekor US$ 4.335 per ons di awal sesi perdagangan.
Secara keseluruhan, logam kuning telah menguat lebih dari 60% sepanjang tahun ini, didorong oleh kombinasi faktor geopolitik, ekspektasi penurunan suku bunga, pembelian besar-besaran oleh bank sentral, tren de-dolarisasi, serta arus masuk dana ke exchange-traded fund (ETF) berbasis emas.
Baca Juga
Analis di MarketPulse OANDA, Zain Vawda, menyebut arah pergerakan emas akan bergantung pada kejelasan pemangkasan suku bunga oleh bank sentral AS menjelang 2026 serta dinamika hubungan AS–Tiongkok. “Jika tidak tercapai kesepakatan antara AS dan Tiongkok, dan hubungan kedua negara terus memburuk, hal itu bisa menjadi pemicu yang dibutuhkan emas untuk menembus level US$ 5.000 per ons,” ujar Vawda dilansir CNBC.
Ketegangan dagang antara dua ekonomi terbesar dunia tersebut meningkat setelah Washington pada Rabu (15/10/2025) mengkritik keputusan Beijing memperluas kontrol ekspor tanah jarang, yang dinilai mengancam rantai pasok global.
Sementara itu, di ranah geopolitik, Presiden AS Donald Trump mengatakan ia dan Presiden Rusia Vladimir Putin sepakat untuk menggelar pertemuan puncak baru guna membahas upaya mengakhiri perang di Ukraina. Pertemuan itu dijadwalkan 1 hari sebelum Trump berbicara dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy.
Di sisi lain, pelaku pasar juga memperkirakan Federal Reserve (The Fed) akan menurunkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada Oktober dan satu kali lagi pada Desember, dengan probabilitas masing-masing 98% dan 95%.
Penurunan suku bunga biasanya menjadi katalis positif bagi emas, karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset) sehingga cenderung diminati saat suku bunga turun. “Penurunan jangka pendek pada harga emas kemungkinan hanya bersifat sementara. Investor yang optimistis cenderung menggunakan momentum pelemahan untuk kembali masuk ke pasar,” tambah Vawda.
Baca Juga
Tring! Permudah Akses Investasi Emas: Registrasi Cepat, Buka Akun dalam Hitungan Menit
Proyeksi Harga Emas & Dampak Ekonomi AS
HSBC pada Rabu (15/10/2025) menaikkan proyeksi rata-rata harga emas tahun 2025 menjadi US$ 3.355 per ons, didorong lonjakan permintaan safe haven, ketegangan geopolitik, dan pelemahan dolar AS.
Sementara itu, penutupan sebagian Pemerintahan AS (government shutdown) yang sedang berlangsung telah menghentikan sejumlah publikasi data ekonomi resmi. Seorang pejabat Departemen Keuangan AS memperingatkan kondisi tersebut dapat menggerus aktivitas ekonomi hingga US$ 15 miliar per minggu akibat hilangnya produksi.
Kenaikan harga emas juga menyeret logam mulia lainnya ke level tertinggi baru. Harga perak spot naik 1,8% menjadi US$ 54,04 per ons, setelah sempat menyentuh rekor US$ 54,15. Sementara itu, platinum menguat 3,2% menjadi US$ 1.706,65, dan paladium melonjak 4,6% ke US$ 1.606,00 per ons.
Reli ini menegaskan tren peningkatan minat investor terhadap aset logam berharga di tengah ketegangan global dan prospek penurunan suku bunga di ekonomi utama dunia.

