Proyek RDMP dan Kilang Baru Jadi Kunci Kurangi Impor BBM
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Ketua Majelis Pertimbangan Pusat Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Mulyanto menilai kebakaran yang melanda Kilang Dumai, Riau milik Kilang Pertamina Internasional pada Rabu (1/10/2025) malam menjadi alarm nasional infrastruktur perminyakan Indonesia. Menurutnya, peristiwa tersebut menegaskan ketahanan energi nasional semakin rentan.
Modernisasasi atau Refinery Development Master Plan (RDMP) kilang dan pembangunan kilang baru menjadi kunci menekan impor BBM
Mulyanto menjelaskan, dengan lifting minyak nasional hanya 600.000 barel per hari (BPH), sementara kebutuhan mencapai 1,6 juta BPH dan kapasitas kilang domestik sekitar 1 juta BPH, Indonesia makin bergantung pada impor bahan bakar minyak (BBM). Kondisi itu, katanya, menekan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) akibat lonjakan subsidi energi.
Baca Juga
ESDM Pastikan Kebakaran Kilang Pertamina di Dumai Murni Kecelakaan
“Fakta ini tentu tidak menggembirakan. Yang gembira hanya para mafia impor migas yang terus bisa mendulang untung,” kata Mulyanto dalam keterangan resmi, Jumat (3/10/2025).
Mulyanto, yang juga anggota Komisi Energi DPR periode 2019–2024, mendesak pemerintah segera melakukan langkah strategis melalui audit komprehensif terhadap seluruh kilang tua, seperti Dumai, Balongan, dan Cilacap. Ia menekankan pentingnya penggantian peralatan yang sudah rentan serta peningkatan sistem keselamatan dan proteksi kebakaran.
Menurutnya, tanpa langkah serius, risiko kebakaran berulang dapat melumpuhkan pasokan energi nasional.
Percepat RDMP dan kilang baru
Mulyanto menyoroti pentingnya percepatan proyek RDMP atau peningkatan kapasitas kilang lama, seperti modernisasi Kilang Balikpapan.
Selain itu, ia menilai pembangunan kilang baru dengan kapasitas tambahan minimal 500.000 barel minyak per hari (BOP) menjadi mendesak. Proyek itu, katanya, dapat dikerjakan melalui kemitraan dengan swasta dan investor asing.
“Tanpa langkah-langkah konkret memperkuat kilang lama, mempercepat pembangunan kilang baru, dan mengamankan cadangan BBM nasional, kita akan terus rentan terhadap krisis energi dan defisit migas yang menggerus APBN,” ungkapnya.
Baca Juga
Mulyanto mengingatkan, ketergantungan tinggi pada impor BBM tidak hanya mengancam ketahanan energi, tetapi juga memperburuk defisit neraca migas. Lonjakan subsidi energi akan membebani APBN dan mempersempit ruang fiskal untuk pembangunan nasional.
Menurutnya, reformasi perkilangan nasional adalah jalan keluar yang tidak bisa ditunda. “Bila tidak, kita akan terus poco-poco, tidak ada kemajuan yang berarti,” ujarnya.

