Pupuk Indonesia Butuh Investasi Rp 54 Triliun untuk Revitalisasi Pabrik
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - PT Pupuk Indonesia (Persero) menyatakan bahwa keberlanjutan industri pupuk membutuhkan upaya revitalisasi industri pupuk untuk menghasilkan produk yang ramah lingkungan dan efisien.
Hal itu diungkapkan Direktur Utama PT Pupuk Indonesia (Persero) Rahmad Pribadi dalam acara Green Energy Summit 2025 bertajuk “Transisi Energi yang Adil: Menjaga Bumi, Menyejahterakan Rakyat" yang digelar Investortrust.id di Hotel JW Marriot, Jakarta, Selasa (23/9/2025).
Rahmad menjelaskan, untuk menopang secara jangka panjang industri pupuk, maka butuh dukungan, salah satunya adalah dukungan revitalisasi industri pupuk. Terlebih, mayoritas pabrik sekarang sudah tua dan konsumsi energi yang boros jika dibandingkan dengan rata-rata global.
"Ke depan kami akan melakukan revitalisasi, karena pabrik-pabrik kami sudah tua. Kami sudah lama tidak melakukan pembangunan pabrik. Untuk merevitalisasi itu butuh Rp54 triliun (tetapi tetap) akan kami lakukan,” ujar Rahmad Pribadi.
Lebih lanjut, Rahmad menyebut, revitalisasi ini sangat dibutuhkan demi mendukug ketahanan pangan. Selain itu, revitalisasi industri pupuk juga membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, karena nilai investasi untuk revitalisasi sangat besar.
"Nah untuk merevitalisasi itu kita butuh Rp 54 triliun dan itu akan kita lakukan. Dan kalau itu dilakukan maka average consumption case ini akan turun menjadi 24. Kalau menjadi 24 maka tentu 50% dari emisinya sudah bisa kita kurangkan. Karena pabrik baru 24, yang lama itu 32. Jadi kalau kita kurangin jadi 25 itu 50% dari emisinya sudah berkurang," jelas Rahmad.
Di sisi lain, Rahmad membeberkan bahwa Pupuk Indonesia sangat bersemangat untuk bisa terus mendukung ketahanan pangan nasional dan menjadi penopang energi pada saat yang sama mengurangi carbon emisi. Menurutnya, hal itu dilakukan secara serius, dan sekarang Pupuk Indonesiabsudah mulai menggarap proyek-proyek yang memang sudah mulai dijalankan.
"Yang terakhir adalah kita juga melakukan revitalisasi pabrik. Hari ini kita menggantikan pabrik yang di Pusri (PT Pupuk Sriwidjaja) itu kita membangun satu pabrik namanya Pusri 3B, investasi sekitar Rp 10 triliun, menggantikan pabrik tua dan nanti Pusri Palembang itu akan menjadi pabrik perusahaan tertua tapi average pabriknya termuda dan terefisien," ucap Rahmad.
Pusri 3B adalah nama proyek pembangunan pabrik pupuk baru oleh PT Pupuk Sriwidjaja Palembang (Pusri) yang bertujuan menggantikan dua pabrik lama, yaitu Pusri III dan Pusri IV, yang sudah tidak efisien. Proyek ini menggunakan teknologi yang lebih modern dan efisien energi, dirancang untuk memproduksi amonia dan urea. Pembangunan dimulai pada Desember 2023 dan diharapkan beroperasi penuh pada tahun 2027.
Rahmad menambahkan, Pupuk Indonesia tidak hanya menjadi fundament terhadap ketahanan pangan, tapi juga fundament untuk sektor industri. Karena menurut Rahmad produk Pupuk Indonesia itu untuk yang berbasiskan gas alam saja menopang 12 industri lainnya.
"Jadi kalau ini terimbas, maka 12 industri yang lainnya juga akan terimbas. Disinilah pertemuan antara ketahanan pangan dengan ketahanan industri. Kalau bahasa kami ketahanan pangan adalah fondasi, industri adalah penggeraknya. Dan dua-duanya itu bertemu di Pupuk Indonesia," pungkas Rahmad.

