Revitalisasi Pabrik, Pupuk Indonesia Tekan Biaya Produksi Rp 1,5 Triliun per Tahun
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – PT Pupuk Indonesia (Persero) menjalankan modernisasi pabrik tua, hingga membangun pabrik baru agar proses produksi lebih efisien. Efisiensi ini memungkinkan Pupuk Indonesia menekan biaya produksi sehingga harga pupuk subsidi dan nonsubsidi bagi petani tetap terjangkau.
Direktur Utama Pupuk Indonesia Rahmad Pribadi menyebut, revitalisasi industri pupuk menegaskan komitmen perusahaan dalam memastikan ketersediaan dan keterjangkauan pupuk bagi petani.
Guna mewujudkan manfaat tersebut secara berkelanjutan, manajemen mengaku upaya revitalisasi juga membutuhkan dukungan dan kolaborasi dari berbagai pihak.
“Ke depan kami akan melakukan revitalisasi, karena pabrik-pabrik kami sudah tua. Kami sudah lama tidak melakukan pembangunan pabrik sejak 2003,” jelas Rahmad di Jakarta, Jumat (26/9/2025).
Baca Juga
Dia mencontohkan, saat ini delapan dari 15 pabrik urea yang dimiliki Pupuk Indonesia telah beroperasi lebih dari 30 tahun. Kondisi ini membuat rata-rata konsumsi gas untuk memproduksi 1 ton urea mencapai 28 MMBTU, lebih tinggi dibandingkan standar global.
Bahkan, khusus untuk delapan pabrik berusia di atas 30 tahun, konsumsi gas rata-rata bisa mencapai 32,2 MMBTU per ton Urea.
“Untuk Urea saat ini rasio konsumsi energi kami tinggi sekali, rata-rata rasio konsumsi gas itu adalah 28 MMBTU per ton Urea,” kata Rahmad.
Oleh karena itu manajemen memandang, revitalisasi industri pupuk menjadi langkah kunci Pupuk Indonesia untuk menjawab tantangan kondisi pabrik yang sudah tua dan tidak efisien tersebut.
Baca Juga
Pupuk Indonesia Butuh Investasi Rp 54 Triliun untuk Revitalisasi Pabrik
Melalui revitalisasi, konsumsi gas di Pupuk Indonesia Grup diproyeksikan dapat ditekan menjadi 25 MMBTU per ton urea pada 2035. Efisiensi ini akan mampu menurunkan biaya produksi, sekaligus memungkinkan perseroan menyediakan pupuk dengan harga lebih terjangkau bagi petani.
“Pak Prabowo menempatkan bahwa ketahanan pangan sebagai sebuah fundamental utama dan kami sangat bersemangat untuk bisa terus mendukung ketahanan pangan nasional,” kata Rahmad.
Sebagai bagian dari langkah revitalisasi ini, Pupuk Indonesia telah memulai pembangunan Pabrik Pusri IIIB melalui PT Pupuk Sriwidjaja Palembang (Pusri). Dengan target penyelesaian pada 2027, Pusri IIIB akan menggantikan pabrik lama.
Fasilitas tersebut akan menghadirkan infrastruktur modern yang mampu meningkatkan efisiensi konsumsi gas dari 32 MMBTU per ton menjadi 21,7 MMBTU per ton urea. Efisiensi ini setara dengan penghematan biaya produksi sekitar Rp 1,5 triliun per tahun.
“Kami sedang membangun satu pabrik bernama Pusri IIIB yang akan menggantikan pabrik yang sudah tua. Keberadaan pabrik ini akan menjadikan Pusri sebagai perusahaan pupuk tertua, tetapi dengan rata-rata umur pabrik yang paling muda dan paling efisien,” pungkas Rahmad.

