Kementerian ESDM Bidik Kapasitas Terpasang PLTS di 2025 Lewati 1 GW
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menargetkan kapasitas terpasang pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di Indonesia menembus lebih 1 gigawatt (GW) pada 2025. Langkah ini sejalan dengan komitmen pemerintah dalam mempercepat transisi energi dan mewujudkan kemandirian nasional di sektor energi.
Direktur Aneka Energi Baru dan Terbarukan Ditjen EBTKE Kementerian ESDM, Andriah Feby Misna, menjelaskan bahwa transisi energi menjadi bagian penting dari agenda pembangunan nasional. Hal ini sejalan dengan poin kedua Asta Cita Presiden Prabowo Subianto yang menekankan pentingnya swasembada tidak hanya di bidang pangan, tetapi juga energi dan air.
Baca Juga
Sampah Jadi Listrik, Danantara Ikut Garap Proyek PLTSa Bareng ESDM
“Harapannya, kemandirian bangsa bisa kita wujudkan melalui percepatan transisi energi. Pemerintah juga sudah membentuk satuan tugas untuk percepatan hilirisasi dan ketahanan energi nasional agar pemanfaatan sumber daya energi dapat dioptimalkan,” ujar Feby dalam Media Briefing Indonesia Solar Summit, Selasa (2/9/2025).
Menurut Feby, Indonesia memiliki potensi energi terbarukan yang sangat besar, terutama dari energi surya. Sebagai negara tropis yang berada di garis khatulistiwa, Indonesia mendapat sinar matahari berlimpah sepanjang tahun.
“Surya (matahari) adalah sumber energi terbesar di Indonesia. Namun, hingga 2024, kapasitas PLTS terpasang baru mencapai 916 megawatt (MW), belum menyentuh 1 GW. Mudah-mudahan di 2025 kita bisa melampaui angka 1 GW pertama,” ungkap dia.
Feby membeberkan, potensi tenaga surya di Indonesia diperkirakan mencapai 3,3 terawatt (TW), tetapu pemanfaatannya masih sangat kecil. Karena itu, pemerintah terus mendorong program percepatan pengembangan energi surya.
Feby menambahkan, harga PLTS kini semakin kompetitif dibandingkan beberapa dekade lalu. Dari sisi pembangunan, konstruksi PLTS juga relatif cepat dibandingkan dengan pembangkit lain seperti hidro maupun panas bumi.
Kendati demikian, ada tantangan yang perlu diatasi, terutama kebutuhan lahan yang besar dan sifat intermiten pembangkit surya. Pemerintah mendorong pemanfaatan lahan tidak produktif seperti atap bangunan, danau, dan waduk untuk pembangunan PLTS.
Baca Juga
Indika Energy (INDY) Operasikan PLTS 360 kW yang Bisa Hemat 350.000 Liter BBM Per Tahun
“Tantangan intermitensi bisa diatasi dengan pengembangan sistem penyimpanan energi, baik menggunakan baterai, hidrogen, maupun teknologi pump storage,” terang Feby.
Saat ini, menurutnya, ketahanan energi Indonesia berada di posisi yang cukup baik dalam aspek ketersediaan, akses, keterjangkauan, dan keberlanjutan. Dengan peningkatan pemanfaatan energi hijau, pemerintah berharap posisi ketahanan energi nasional dapat meningkat ke level lebih tinggi.
“Ini adalah anugerah Tuhan yang harus kita manfaatkan untuk ketahanan dan kemandirian energi bangsa. Dengan dukungan kebijakan dan komitmen kuat, target PLTS melampaui 1 GW pada 2025 optimistis dapat tercapai,” pungkas Feby.

