Kapasitas Terpasang Pembangkit Bioenergi Baru 27 MW, Masih Butuh Beleid untuk Akselerasi PLTBm
JAKARTA, investortrust.id - Direktur Manajemen Proyek dan Energi Baru Terbarukan PT PLN (Persero), Wiluyo Kusdwiharto menyebutkan, Indonesia memiliki potensi bioenergi sebesar 313 megawatt (MW), yang terdiri atas kuota pengembangan PLTBm (Biomassa) dan PLTBg (Biogas).
Pemerintah pun sedang mendorong pengembangan PLT Bioenergi tersebut dengan merencanakan berbagai proyek yang tersebar di seluruh Indonesia, meskipun dalam kapasitas yang belum terlalu besar. Kendati demikian, sejauh ini kapasitas terpasang PLT Bioenergi tersebut baru 27 MW.
“Dari total 313 MW tersebut, saat ini baru ada 27 MW yang sudah memasuki COD. Jadi kecil banget ini. Yang sudah COD antara lain Deli Serdang 9,9 MW, Ujung Batu 3 MW, Arung Dalam 2 MW, Pasir Mandoge 2 MW, dan Bangka Selatan 9 MW,” kata Wiluyo dalam acara METI Green Talk, Senin (30/9/2024).
Baca Juga
Pemerintah Targetkan Tambahan Kapasitas Terpasang PLTB 5 GW hingga 2030
Maka dari itu, Wiluyo memandang bahwa dibutuhkan regulasi lebih lanjut untuk mengakselerasi pembangkit bioenergi ini, terutama PLTBm. Dia menerangkan, bahan baku untuk PLTBm bisa diperoleh lewat dua jalur, yaitu dari limbah dan melalui Hutan Tanaman Energi (HTE).
Kendati demikian, saat ini pemanfaatan biomassa tersebut hanya dari limbah, baik itu limbah sawit, limbah kayu (woodchips), limbah padi (sekam padi), maupun limbah-limbah rumah tangga dari perkotaan.
“Program HTE ini rasanya jalan di tempat. Kalau untuk HTE ini sebenarnya sustainability-nya jauh lebih terukur. Jadi kita bekerja sama dengan swasta maupun dengan BUMN, BUMD, untuk mengembangkan lahan-lahan kosong, kita tanami pohon-pohon energi, seperti Gamal dan Kaliandra, kemudian kita potong dan kita masukin ke pembangkit-pembangkit yang membutuhkan biomassa ini,” ungkapnya.
Menurut Wiluyo, belum ada pihak yang menggunakan sistem HTE ini secara serius. Dia tidak memungkiri, ada beberapa sektor swasta yang membangun pengolahan wood chips sampai ke pellet kayu, tapi banyak yang diekspor ke Jepang.
Baca Juga
PLN: El Nino dan Perubahan Iklim Ganggu Produksi Listrik PLTA dan PLTB
“Nah ini program-program seperti ini mungkin juga butuh regulasi, butuh arahan, butuh masukan dari pemerintah dan DPR supaya kami nih yang di sektor riil ini bisa menggenjot pertumbuhan PLT Biomasa ini termasuk yang program co-firing,” ujar Wiluyo.
Wiluyo membeberkan bahwa biomasa ini masih menghadapi beberapa tantangan yang cukup berat. Dia menceritakan kalau di tahun 2022 PLN punya target akan membeli 500 ribu ton per tahun untuk biomassa, tetapi realisasinya hanya sekitar 250 ribu ton per tahun.
“Padahal target kami di tahun 2025 adalah 10 juta ton per tahun untuk biomasa. Tahun 2023 pertumbuhannya sama, target 1 juta ton hanya tercapai 500 ribu ton. Nah ini artinya bahwa perlu adanya regulasi dulu dari pemerintah supaya sinkron termasuk soal harga, termasuk menugaskan misalkan Perhutani untuk memanfaatkan lahan-lahan kosongnya untuk kita gunakan sebagai materi biomassa,” ucapnya.

