Dilematis, Pengamat Sebut Industri Otomotif Sedang Hadapi Tekanan Ganda
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Industri otomotif nasional tengah menghadapi tekanan ganda di tengah maraknya demonstrasi di sejumlah daerah. Selain pelemahan daya beli, ketidakpastian hubungan industrial membayangi rencana produksi dan investasi pabrikan.
Pengamat otomotif Yannes Martinus Pasaribu menilai kunci krisis ini adalah dialog sosial yang nyata. Terlebih tuntutan buruh beberapa hari lalu dianggap menjadi dilematis bagi semua pihak.
“Kuncinya ada pada komunikasi transparan dan negosiasi proaktif bersama serikat buruh… semua jadi serba dilematis,” ujarnya saat dihubungi investortrust.id, Senin (1/9/2025).
Baca Juga
Ia menjelaskan bahwa tuntutan penghapusan outsourcing, penolakan upah murah, penghentian PHK massal, kenaikan upah 8,5–10,5%, dan reformasi pajak ketenagakerjaan berpotensi memperburuk utilisasi pabrik otomotif saat ini sudah rendah di angka 55%.
Dosen ITB itu juga menyinggung fenomena “Chili Paradox”, di mana indikator makro positif gagal menghapus persepsi ketidakadilan, sehingga memicu eskalasi instabilitas. “Semoga hal itu tidak terjadi di Indonesia dan keadaan segera membaik,” sambungnya.
Data terbaru Gaikindo menunjukkan hingga Juli 2025, wholesales kumulatif mencapai 435.390 unit, turun 10,1% yoy; retail 453.278 unit, turun 10,8% yoy. Target penjualan tahunan Gaikindo masih 900.000 unit, namun sedang dievaluasi di tengah pelemahan permintaan.
Baca Juga
Gaikindo Khawatirkan PHK Industri Otomotif Lokal Akibat Kenaikan Penjualan Mobil Listrik
Khusus Agustus 2025, Gaikindo menyatakan efek transaksi GIIAS 2025 baru akan terasa pada penjualan Agustus, menyusul penutupan pameran pada 3 Agustus. Artinya, angka resmi Agustus diperkirakan rilis pertengahan September, mengikuti pola publikasi bulanan Gaikindo.
Yannes menegaskan kembali pentingnya kepastian hubungan industrial untuk menjaga arus investasi baru. Komunikasi transparan dan negosiasi proaktif dinilai menjadi syarat pemulihan utilisasi, sekaligus mencegah paradoks stabilitas makro berujung gejolak sosial yang lebih luas.

