Proyek RDMP Balikpapan Diburu 'Deadline', Ini Kata Komut Pertamina
Poin Penting
|
CILACAP, investortrust.id - Komisaris Utama PT Pertamina (Persero) Mochamad Iriawan mendorong agar Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan bisa selesai pengerjaannya pada akhir 2025 ini. Hal ini diungkapkan saat mengunjungi Kilang RU IV Cilacap, Jawa Tengah, Rabu (27/8/2025).
Iriawan mengaku kecewa karena RDMP Balikpapan yang dijanjikan ke Presiden Prabowo Subianto bakal rampung akhir tahun ini, justru terlihat tidak mengalami kemajuan berarti. Maka dari itu, dia menugaskan Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis Pertamina Agung Wicaksono untuk secara ketat mengawasi pembangunan kilang tersebut.
"Saya sampai sekarang masih kecewa, RDMP di Balikpapan yang janjinya akhir tahun akan diresmikan oleh Pak Presiden, sampai sekarang masih batuk-batuk. Padahal harusnya bulan September atau Oktober itu sudah selesai," kata Iriawan dalam acara "Jejak Berkelanjutan" di Cilacap, Jawa Tengah, Rabu (27/8/2025).
Baca Juga
Kilang Pertamina RU IV Cilacap, Produsen Avtur Utama dan 'Green Refinery' Andalan
Saat ini, RDMP Balikpapan berada di tahapan persiapan beroperasinya salah satu unit vital, yakni Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC) hasil proyek RDMP Balikpapan. Unit RFCC yang segera dioperasikan ini memiliki kapasitas pengolahan 90.000 barel per hari. Teknologi RFCC mampu meningkatkan nilai tambah residu minyak mentah menjadi produk bernilai tinggi, sekaligus menghasilkan LPG, gasoline, dan propylene.
RFCC Kilang Balikpapan ini akan menjadi unit RFCC terbesar yang dimiliki oleh Pertamina, melalui subholding refinery & petrochemical PT Kilang Pertamina Internasional (KPI). Adapun KPI juga memiliki unit sejenis di Kilang Cilacap yang telah beroperasi sejak 2015. RFCC Kilang Cilacap memiliki kapasitas 62.000 barel per hari.
Iriawan menekankan bahwa pembangunan Kilang Balikpapan ini menjadi salah satu upaya untuk mewujudkan swasembada energi yang menjadi Asta Cita Presiden Prabowo Subianto. "Beliau bicara berapi-api, beliau bicara dengan hitungan yang cermat bahwa bisa 2030 kita bisa swasembada energi," ujar Iriawan.
Menurutnya, untuk bisa mewujudkan swasembada energi, Pertamina harus memiliki peta jalan (road map) yang jelas. Langkah ini penting untuk menentukan arah pengerjaan proyek agar tetap berjalan beriringan dengan visi besar Presiden Prabowo.
"Pertamina harus punya road map untuk bisa mencapai target net zero emission. Kalau enggak ada road map, enggak akan tercapai. Ada road map sendiri pun belum tentu bisa tercapai," tegas dia.
Baca Juga
Kilang Pertamina Internasional Terima Penghargaan Investortrust BUMN Awards 2025
Bukan hanya itu, Iriawan pun menegaskan, Pertamina sebagai BUMN yang bergerak di bidang minyak dan gas bumi (migas), seharusnya menjadi motor utama dalam mendorong peningkatan lifting migas nasional. Menurutnya, Pertamina jangan sampai kalah oleh kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) yang lain dalam menggenjot lifting migas nasional.
"Pak Presiden mencanangkan lifting. Tambahan lifting ada di Natuna 30.000 barel per hari, yang keluar Medco. Mana Pertaminanya? Kita malu. Saya melamun dengan Pak Dirut, kita merasa tertampar," tutur Iriawan.

