Kebutuhan Gula Nasional Naik 2-3% per Tahun, Produksi Masih Defisit
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian (Kemenko Pangan) mengungkap kebutuhan gula nasional terus meningkat setiap tahunnya. Berdasarkan data, konsumsi gula naik 2-3% per tahun, sedangkan kebutuhan industri tumbuh 5-6% per tahun.
“Total kebutuhan gula hampir mencapai 6,5 juta ton, termasuk untuk konsumsi rumah tangga, industri, dan kawasan berikat,” jelas Deputi Bidang Koordinasi Usaha dan Pertanian Kemenko Pangan, Widiastuti, dalam Seminar Ekosistem Gula Nasional di Jakarta, Rabu (27/8/2025).
Baca Juga
Danantara Janji Serap Gula Petani Senilai Rp 1,5 Triliun, Kemenko Pangan: Proses Tak Bisa Cepat
Namun demikian, produksi gula dalam negeri masih jauh dari cukup. Rata-rata produksi nasional hanya sekitar 2,46 juta ton per tahun, sehingga belum mampu memenuhi kebutuhan yang mencapai 5,6 juta ton per tahun.
Untuk menutup defisit tersebut, pemerintah harus melakukan impor gula mentah (raw sugar) maupun gula rafinasi yang sebagian besar diperuntukkan bagi industri.
Padahal, melalui program Asta Cita, Presiden Prabowo Subianto menargetkan swasembada pangan pada 2028, termasuk komoditas gula. Namun hingga kini, capaian produksi masih tertinggal dari kebutuhan domestik.
Baca Juga
Cemas Banjir Etanol Impor, Asosiasi Petani Tebu Minta Permendag16/2025 Soal Kebijakan Impor Direvisi
“Rata-rata produksi gula nasional belum mencukupi sehingga masih diperlukan impor raw sugar untuk memenuhi kebutuhan,” ujar Widiastuti.
Ia menambahkan, tantangan menuju swasembada gula cukup besar. Isu utama yang dihadapi mencakup keterbatasan lahan tebu, perlunya perluasan tanaman, hingga pembangunan pabrik pengolahan. Jika hal-hal tersebut dapat diatasi, produksi gula dalam negeri berpotensi meningkat secara signifikan.
Baca Juga
Investor Asing Berbalik Net Sell Rp 212,58 Miliar, Saham BBCA kembali Diobral
“Penyediaan lahan tebu dan pembangunan pabrik masih menjadi isu utama, di samping masalah harga gula dan penerapan kebijakan harga. Hal-hal ini yang selama ini menghambat peningkatan produksi,” jelasnya.

