Insentif Mobil Listrik Impor Harus Dihentikan, Dikhawatirkan Ganggu Iklim Investasi
JAKARTA, investortrust.id - Peneliti dari Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Universitas Indonesia (LPEM UI) Riyanto mengusulkan insentif mobil listrik atau Battery Electric Vehicle (BEV) impor atau CBU sebaiknya dihentikan, karena memunculkan ketimpangan bagi industri otomotif, khususnya di sektor kendaraan listrik, yang sudah membangun pabrik di Indonesia.
Menurut Riyanto, ketidakadilan dirasakan para produsen kendaraan listrik yang telah mendirikan pabriknya di dalam negeri. Hal ini dapat menganggu iklim investasi di dalam negeri.
Baca Juga
Terlalu Fokus ke EV Bisa Lemahkan Ekosistem Otomotif Nasional
"Jika insentif ini diperpanjang tentu menimbulkan ketidakadilan dan ketidakkonsistenan kebijakan, kredibilitas kebijakan turun, menggangu iklim investasi, dan tidak sesuai dengan tujuan awal menjadikan Indonesia sebagai basis produksi BEV,” kata dia pada acara diskusi di Kantor Kemenperin, Jakarta, Senin (26/8/2025).
Oleh karena itu, menurut Riyanto, kebijakan insentif terhadap mobil listrik impor tidak perlu diperpanjang pada 2026 mendatang. Pasalnya, ia menilai, Indonesia tidak boleh hanya sekadar menjadi pasar dari kendaran listrik, tetapi harus bisa memproduksi mobil listrik tersebut.
Apalagi, menurutnya, hingga kini, BEV impor merajai pasar domestik. Porsinya mencapai 64% per Mei 2025, naik tajam dari 40,2% pada periode sama tahun lalu. Selama ini, insentif BEV hanya berdampak ke sektor perdagangan saja yang memiliki efek berganda (multiplier effect) sangat kecil, dibandingkan dengan produksi lokal.
Baca Juga
Riyanto merekomendasikan pemerintah memberikan kebijakan fiskal yang konsisten, berkeadilan dan proporsional berbasis emisi dan TKDN. Menurutnya, kendaraan yang berkontribusi mengurangi emisi cukup besar dan dampak terhadap perekonomiannya besar, patut memperoleh insentif yang besar pula.
"Seharusnya insentif BEV CBU tidak diperpanjang, agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga menjadi pusat produksi BEV,” ungkap Riyanto.

